JAKARTA – PT Telkomsel menghadapi masalah arus kas akibat piutang macet sebesar Rp298,7 miliar dari PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). Dana tersebut merupakan tunggakan biaya sewa jaringan komunikasi yang belum dibayarkan oleh pengelola Whoosh tersebut sejak tahun 2023.
Kondisi keuangan KCIC yang tersendat diduga menjadi penyebab utama perusahaan gagal memenuhi kewajiban pembayarannya kepada Telkomsel. Sebagai penyedia layanan jaringan, posisi Telkomsel kini tertekan oleh beban piutang yang nilainya tidak sedikit tersebut.
Baca Juga:
- Danantara: Jalur Super Cepat atau Celah Korupsi Baru di Era Prabowo?
- IHSG Anjlok 2%, Kebijakan Baru Ekspor SDA Prabowo Bikin Investor Tiarap
Menanggapi kabar tersebut, mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Muhammad Said Didu, memberikan tanggapan singkat namun menohok. Ia menilai kasus ini sebagai bukti bahwa masalah internal Whoosh kini mulai menyeret entitas BUMN lain ke dalam kesulitan yang sama.
“Akhirnya BUMN lain pun jadi korban Kereta Api Cepat (Whoosh),” ujar Said Didu.
Pernyataan tersebut menyoroti kekhawatiran bahwa ketidakmampuan Whoosh dalam mengelola operasionalnya secara mandiri justru membebani perusahaan negara lain yang terlibat di dalamnya.(Ren)
