CEUTA, TANAMPANEN.COM — Gelombang migrasi besar kembali mengguncang perbatasan Uni Eropa. Pada Kamis (30/7/2026), ribuan migran dilaporkan menerobos masuk ke Ceuta, wilayah eksklave Spanyol di Afrika Utara yang berbatasan langsung dengan Maroko. Peristiwa ini memicu krisis besar hingga otoritas setempat menyatakan situasi tersebut sebagai darurat kemanusiaan.
Menurut laporan setempat, lebih dari 1.500 migran berhasil masuk hanya dalam sepekan terakhir. Ribuan orang lainnya nekat memanjat pagar perbatasan tinggi atau memutar lewat jalur laut setelah petugas keamanan Maroko dikabarkan mengendurkan pengawasan dan mundur dari pos mereka.
Arus kedatangan yang tak terbendung ini membuat kapasitas penampungan di Ceuta lumpuh (kolaps) total. Ratusan migran kini terpaksa tidur di jalan-jalan kota tanpa tempat bernaung. Selain itu, fasilitas penampungan anak di bawah umur yang tak terdampingi dilaporkan beroperasi hingga 2.400 persen melebihi kapasitas normalnya.
Baca Juga: Wamen Imigrasi Jadi Tersangka KPK, Ini Modus Kejahatannya!
Penyeberangan nekat ini juga memakan korban jiwa. Sedikitnya sembilan orang dilaporkan tewas akibat tenggelam dan cedera saat berupaya melintasi perbatasan darat maupun laut.
Menanggapi krisis yang terus memburuk, Presiden Ceuta mendesak Pemerintah Pusat Spanyol untuk segera mendeklarasikan status darurat nasional dan menutup sementara perbatasan.
Baca Juga: Biaya Jadi WN Singapura Rp2 Jutaan, Tapi Syarat Ini Wajib Anda Penuhi!
Pemerintah Spanyol merespons dengan mengerahkan personel polisi dan militer tambahan untuk memperketat keamanan. Pihak Spanyol mengakui situasi ini sangat luar biasa, namun menyatakan terus berkoordinasi dengan pemerintah Maroko untuk menekan dan mengendalikan arus migrasi tersebut.(Red)
