Para Pengecer Mogok Tak Mau Jualan, Harga Timun Turun Drastis

Para Pengecer Mogok Tak Mau Jualan, Harga Timun Turun Drastis

JAKARTA, TANAMPANEN.COM — Fluktuasi harga komoditas sayuran segar kembali menunjukkan dinamika yang mengejutkan di tingkat pedagang eceran. Setelah sempat melonjak tinggi hingga menyentuh angka Rp18.000 per kilogram, harga timun akhirnya mengalami penurunan drastis hingga mencapai Rp13.000 per kilogram.

Penurunan harga yang cukup tajam ini terjadi sebagai respons langsung atas aksi “pemogokan” halus yang dilakukan oleh para pengecer. Selama hampir satu bulan terakhir, mayoritas pedagang eceran memilih untuk tidak menyetok dan tidak menjual timun akibat harganya yang melonjak terlalu tinggi dari tingkat distributor.

Langkah ini diambil para pengecer guna mengantisipasi risiko kerugian besar. Dengan harga beli yang terlampau mahal, konsumen rumah tangga cenderung menolak membeli timun, sehingga barang dagangan berisiko tinggi membusuk di lapak.

Baca Juga: Harga Sayur Lokal Merangkak Naik, Timun Paling Mahal

Aksi penolakan dari tingkat pengecer ini lantas memicu efek dominan pada rantai pasok. Penjualan timun di tingkat grosir dan pasar induk mendadak macet total karena tidak adanya penyerapan barang dari para pedagang eceran.

Mengingat timun merupakan komoditas pertanian yang memiliki daya tahan singkat dan mudah layu, para distributor dan tengkulak tidak memiliki pilihan lain selain memotong harga secara drastis. Penurunan harga hingga Rp13.000 per kilogram dalam kurun waktu singkat ini menjadi opsi darurat agar stok timun yang menumpuk dapat segera berputar kembali di pasaran.

Baca Juga: Tomat Permata Jadi Primadona Pembeli di Pasar Sayur

Fenomena ini menjadi bukti nyata bagaimana hukum penawaran dan permintaan (*supply and demand*) bekerja di pasar tradisional. Ketika harga berada di luar batas wajar dan daya beli masyarakat menurun, resistensi di tingkat pengecer terbukti ampuh mengoreksi harga pasar kembali menuju titik seimbangnya.(Red)