Harga Minyak Mentah Dunia Kembali Melemah, Kisaran 70-75 Dolar Per Barel

Harga Minyak Mentah Dunia Kembali Melemah, Kisaran 70-75 Dolar Per Barel

JAKARTA, TANAMPANEN.COM – Harga minyak mentah dunia kembali mengalami pelemahan pada perdagangan Jumat (26/6/2026). Penurunan ini terjadi setelah kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah mulai mereda, sehingga tekanan beli berangsur menurun.

Berdasarkan perkembangan pasar energi global, harga minyak mentah jenis Brent diperdagangkan di kisaran US$74–75 per barel, sedangkan minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran US$70–71 per barel.

Pelemahan harga minyak dipengaruhi oleh mulai normalnya aktivitas pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia. Meredanya kekhawatiran terhadap gangguan distribusi membuat premi risiko geopolitik yang sebelumnya mendorong kenaikan harga mulai berkurang.

Baca Juga: Harga Minyak Mentah Dunia Turun, Malaysia Gerak Cepat Turunkan Harga BBM

Selain faktor pasokan, pelaku pasar juga masih mencermati prospek permintaan minyak global. Perlambatan aktivitas ekonomi di sejumlah negara, termasuk Tiongkok sebagai salah satu konsumen energi terbesar dunia, memunculkan kekhawatiran bahwa pertumbuhan permintaan minyak belum akan pulih secara signifikan dalam waktu dekat.

Di sisi lain, para investor masih menunggu sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat yang diperkirakan dapat memberikan gambaran mengenai arah kebijakan suku bunga. Kebijakan moneter tersebut dinilai berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi global sekaligus tingkat konsumsi energi.

Baca Juga: Singapura Turunkan Harga BBM Ikut Penurunan Harga Minyak Mentah Dunia

Bagi Indonesia, pergerakan harga minyak dunia menjadi salah satu indikator penting karena dapat memengaruhi biaya impor energi, nilai subsidi pemerintah, hingga harga bahan bakar minyak (BBM).

Apabila tren pelemahan harga minyak berlanjut, tekanan terhadap biaya impor energi berpotensi berkurang. Namun, pemerintah tetap perlu mencermati perkembangan geopolitik global yang sewaktu-waktu dapat kembali memicu lonjakan harga minyak.

Analis memperkirakan volatilitas harga minyak masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan. Selain perkembangan konflik geopolitik, pasar juga akan mencermati kebijakan produksi negara-negara pengekspor minyak serta kondisi pertumbuhan ekonomi global yang menjadi penentu utama permintaan energi.(Red)