Singapura Turunkan Harga BBM Ikut Penurunan Harga Minyak Mentah Dunia

Singapura Turunkan Harga BBM Ikut Penurunan Harga Minyak Mentah Dunia

Singapura, TANAMPANEN.COM — Mengikuti jejak langkah cepat beberapa negara tetangga di Asia Tenggara yang melakukan penyesuaian tarif energi, para peritel bahan bakar minyak (BBM) di Singapura resmi menurunkan harga jual eceran mereka pekan ini.

Langkah ini menyusul tren pelemahan harga minyak mentah dunia yang melandai ke level terendah dalam beberapa bulan terakhir.

Berdasarkan data pantauan harga terbaru, seluruh operator SPBU utama di Singapura—termasuk Esso, Caltex, Shell, Sinopec, dan SPC—kompak memangkas harga bensin dan diesel rata-rata sebesar 4 sen per liter.

Penurunan ini dipicu oleh merosotnya harga minyak mentah Brent yang kini bertengger di kisaran US$ 77 per barel akibat meredanya ketegangan geopolitik global serta proyeksi melimpahnya pasokan di paruh kedua tahun ini.

Baca Juga: Harga Minyak Mentah Dunia Turun, Malaysia Gerak Cepat Turunkan Harga BBM

Penurunan harga ini menjadi angin segar bagi konsumen di Singapura yang selama ini menghadapi biaya hidup tinggi. Sebagai negara yang menganut sistem pasar bebas murni tanpa adanya subsidi energi dari pemerintah, harga eceran BBM di Singapura sangat sensitif dan berkorelasi langsung dengan pergerakan harga minyak mentah internasional (Mean of Platts Singapore/MOPS).

Meski telah mengalami penurunan, struktur harga BBM di Singapura terpantau masih menjadi yang tertinggi di kawasan Asia Tenggara. Untuk varian bensin paling populer yakni RON 95, harga baru kini berada di angka SGD 3,42 (kisaran Rp 41.550 per liter).

Sementara untuk RON 92 kini dipatok SGD 3,39 per liter. Sebagai perbandingan, harga ini jauh melampaui harga jual di Malaysia yang bergerak cepat menurunkan tarif lewat sistem penyesuaian berkala dan subsidi ketat bagi warga lokalnya.

Tingginya harga BBM di Singapura tidak hanya mencerminkan harga komoditas global, melainkan juga akibat instrumen fiskal pemerintah setempat. Singapura sengaja menerapkan tarif cukai yang sangat tinggi sebagai strategi sadar untuk menekan angka kepemilikan mobil pribadi demi mengendalikan kepadatan lalu lintas dan emisi karbon di pulau yang terbatas tersebut.

Baca Juga: PHK Massal di Singapura, Korban PHK Mayoritas Lulusan Sarjana

Fenomena menarik juga terlihat pada komoditas diesel di Singapura. Berbeda dengan pasar regional lain di mana diesel umumnya dipatok lebih murah dari bensin, di Singapura harga diesel justru melambung melampaui harga bensin premium, menyentuh kisaran SGD 4,16 hingga SGD 4,22 per liter (sekitar Rp 50.500+ per liter).

Para analis energi menyebutkan hal ini disebabkan oleh tingginya biaya pemurnian (refining margins) serta ketatnya pasokan diesel untuk memenuhi kebutuhan sektor industri, logistik, dan konstruksi domestik yang terus digenjot.

Para pengamat ekonomi memproeksikan harga BBM di Singapura akan cenderung stabil di tingkat baru ini selama beberapa minggu ke depan, terkecuali jika terjadi kejutan baru pada rantai pasok global atau keputusan mendadak dari organisasi negara-negara pengekspor minyak (OPEC+) terkait kuota produksi mereka.(Red)