Usai AS-Iran Saling Serang, Harga Minyak Mentah Dunia Kembali Naik

Usai AS-Iran Saling Serang, Harga Minyak Mentah Dunia Kembali Naik

JAKARTA, TANAMPANEN.COM — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah militer Amerika Serikat (AS) dan Iran terlibat aksi saling serang di kawasan Teluk. Insiden terbaru ini langsung mengakhiri tren penurunan harga minyak yang sempat terjadi dalam beberapa pekan terakhir akibat optimisme gencatan senjata.

Per 29 Juni 2026, harga minyak mentah dunia dilaporkan kembali bergerak naik karena pasar khawatir akan potensi gangguan pasokan di jalur pelayaran global.

Baca Juga: Harga Minyak Mentah Dunia Kembali Melemah, Kisaran 70-75 Dolar Per Barel

Kronologi Eskalasi: Saling Balas di Selat Hormuz

Ketegangan bermula ketika militer AS melancarkan serangan udara strategis ke sejumlah fasilitas militer Iran yang meliputi situs peluncuran rudal, markas drone, dan radar pantai. Langkah agresif Washington ini diambil sebagai respons atas serangkaian serangan terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.

Tidak tinggal diam, pihak Iran langsung membalas serangan tersebut dengan menargetkan pangkalan militer AS yang berada di Kuwait dan Bahrain. Aksi saling balas ini mematahkan sentimen positif dari nota kesepahaman (MoU) jalur damai yang sebelumnya sempat meredakan ketegangan.

Dampak Langsung ke Harga Minyak Dunia

Sebelum insiden akhir pekan kemarin terjadi, harga minyak mentah dunia sempat anjlok ke level terendah sejak konflik dimulai—di mana Brent berada di kisaran $71–$72 per barel dan WTI jatuh di bawah $70 per barel. Namun, situasi terkini memaksa grafik harga kembali merangkak naik.

Baca Juga: Harga Minyak Mentah Dunia Turun, Malaysia Gerak Cepat Turunkan Harga BBM

Ancaman di Selat Hormuz Jadi Pemicu Utama

Para analis komoditas menilai respons cepat pasar minyak ini sangat wajar mengingat lokasi konflik berada di episentrum logistik energi dunia.

Catatan Penting: Selat Hormuz merupakan urat nadi pasokan energi global yang dilalui oleh hampir seperlima atau sekitar 20% dari total konsumsi minyak dunia setiap harinya.

Eskalasi militer yang melibatkan serangan langsung antaranegara di wilayah ini memicu kekhawatiran akut akan penutupan atau hambatan jalur distribusi. Selama risiko tersumbatnya Selat Hormuz tetap tinggi, harga minyak mentah dunia diprediksi akan terus mengalami volatilitas tinggi dalam beberapa hari ke depan.(Red)