JAKARTA, TANAMPANEN.COM — Dunia bisnis Indonesia baru saja berduka atas berpulangnya salah satu tokoh legendaris, Michael Bambang Hartono. Beliau meninggalkan jejak sejarah panjang tentang ketangguhan, keberanian mengambil risiko, dan dedikasi tinggi yang mengubah peninggalan usaha kecil menjadi salah satu imperium bisnis terbesar di Asia Tenggara.
Perjalanan bisnis Bambang Hartono bukanlah kisah manis yang instan. Meski sang ayah, Oei Wie Gwan, mendirikan pabrik kretek Djarum di Kudus pada 1951, cobaan terberat justru datang di awal masa muda Bambang dan adiknya, Robert Budi Hartono.
Pada tahun 1963, bencana dahsyat menghantam: pabrik Djarum ludes terbakar tanpa sisa, disusul warta duka wafatnya sang ayah tak lama kemudian. Di tengah puing-puing musibah dan keterbatasan modal, Bambang yang baru berusia 20-an mengambil alih kemudi. Dari titik inilah perjuangan “dari nol” itu benar-benar dimulai. Dengan optimisme dan mentalitas pengusaha sejati, mereka membangun kembali Djarum dari awal hingga bertransformasi menjadi raksasa industri modern.
Baca Juga: Rekening Diblokir Pihak Pajak, Pabrik Rabbani Snack Tutup Usaha
Ekspansi Gurita Bisnis dan Penguasaan BCA
Tidak berhenti di industri rokok, visi bisnis Bambang Hartono terus berkembang. Langkah monumental terjadi saat krisis keuangan melanda Indonesia pada akhir 1990-an. Di bawah bendera Grup Djarum, Bambang bersama sang adik mengambil langkah berani dengan mengakuisisi Bank Central Asia (BCA).
Keputusan strategis tersebut terbukti menjadi pilar utama kejayaan mereka. BCA berkembang pesat menjadi bank swasta terbesar di Indonesia, sekaligus penyokong terbesar kekayaan keluarga Hartono hingga menempatkan mereka di puncak daftar orang terkaya di Indonesia selama bertahun-tahun.
Baca Juga: Rekor! Empat Anak Bambang Hartono Terima Warisan Rp52 Triliun per Orang
Warisan Fantastis untuk Empat Ahli Waris
Kini, peninggalan dan kerja keras seumur hidup almarhum resmi diteruskan ke generasi penerus. Proses transisi kekayaan Bambang Hartono mencatatkan rekor baru dalam sejarah transfer aset bisnis di Indonesia.
Kepemilikan 49% saham almarhum di PT Dwimuria Investama Andalan—perusahaan holding yang mengendalikan Grup Djarum dan BCA—telah dialihkan kepada empat orang anaknya. Masing-masing ahli waris menerima porsi saham dengan nilai fantastis, berkisar antara Rp52 triliun hingga Rp55 triliun (sekitar US$2,93 miliar).
Angka fantastis ini tidak hanya menjadi rekor pembagian warisan terbesar di Indonesia, tetapi juga menandai babak baru kepemimpinan regenerasi keluarga Hartono dalam menjaga tatanan dan keberlanjutan bisnis nasional.(Red)
