TANAMPANEN.COM – Hari ini, umat Islam di berbagai belahan dunia memasuki tanggal 10 Muharram 1448 Hijriah. Bagi seorang Muslim, momen ini bukan sekadar pergantian tanggal di kalender Islam, melainkan sebuah ruang waktu yang menyimpan teologi, sejarah besar, dan limpahan pahala lewat ibadah yang sangat dianjurkan: Puasa Asyura.
Di balik kesunahannya yang kuat, puasa Asyura menyimpan lembaran sejarah yang mempertemukan tradisi lintas generasi para nabi. Bagaimana sebenarnya awal mula ibadah ini disyariatkan, dan apa keutamaan besar di baliknya?
Akar Sejarah: Dari Makkah hingga Sudut Madinah
Jauh sebelum Nabi Muhammad SAW menerima perintah wajib puasa Ramadan, masyarakat Arab Quraisy di masa Jahiliah rupanya sudah terbiasa berpuasa pada tanggal 10 Muharram. Pada hari itu pula, mereka biasanya mengganti kiswah (kelambu) Ka’bah. Rasulullah SAW sendiri telah ikut berpuasa pada hari tersebut selama bermukim di Makkah.
Namun, titik balik yang mempertegas syariat ini terjadi ketika Rasulullah SAW berhijrah ke Madinah pada tahun 622 Masehi. Di sana, beliau mendapati pemandangan menarik: kaum Yahudi Madinah juga sedang khusyuk berpuasa.
Baca Juga: Haji: Puncak Penghambaan, Bukan Sekadar Gelar di Depan Nama
Sebagaimana terekam otentik dalam kitab Sahih Al-Bukhari dan Sahih Muslim, Rasulullah SAW kemudian bertanya mengenai alasan mereka berpuasa. Para pemuka Yahudi menjawab:
“Hari ini adalah hari yang baik. Pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka (Firaun), maka Musa berpuasa pada hari ini sebagai bentuk syukur.”
Mendengar jawaban itu, Rasulullah SAW memberikan sebuah penegasan spiritual yang sangat mendalam:
“Aku (umat Islam) lebih berhak dan lebih utama terhadap Musa daripada kalian.”
Sejak saat itu, Rasulullah SAW berpuasa dan memerintahkan umat Islam untuk menunaikannya. Kalimat “lebih berhak terhadap Musa” ini menjadi maklumat penting bahwa Islam adalah penerus murni dari ajaran tauhid para nabi terdahulu, sekaligus koreksi atas pergeseran ajaran yang dilakukan oleh kaum Yahudi saat itu.
Ketika puasa Ramadan diwajibkan pada tahun ke-2 Hijriah, status puasa Asyura berubah dari hampir wajib menjadi puasa sunah sukarela hingga hari ini.
Baca Juga::Analisis Sains di Balik Keajaiban Nabi Musa Membelah Laut Merah
Keutamaan Puasa Asyura: Penggugur Dosa Setahun Lalu
Bukan tanpa alasan Rasulullah SAW begitu menekankan ibadah satu hari ini. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda mengenai ganjaran agung di balik puasa Asyura:
“Puasa Asyura, aku berharap kepada Allah agar ia dapat menghapus dosa-dosa di tahun yang lalu.”
Bagi setiap Muslim, ini adalah obral ampunan yang luar biasa. Hanya dengan menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu selama satu hari, dosa-dosa kecil yang telanjur diperbuat selama setahun ke belakang dapat diputihkan kembali oleh Allah SWT.
Rahasia Menyendirikan Puasa: Anjuran Tiga Tingkatan
Di akhir hayatnya, tepatnya pada tahun 10 Hijriah, Rasulullah SAW menginginkan agar ibadah umat Islam memiliki identitas yang mandiri dan tidak persis menyerupai ritual kaum Yahudi. Beliau berniat menambahkan puasa sehari sebelum Asyura pada tahun berikutnya, meski beliau wafat sebelum sempat melaksanakannya.
Merujuk pada penjelasan ulama besar seperti Imam An-Nawawi dalam Syarah Sahih Muslim dan Imam Al-Munawi, para ulama fikih merumuskan tiga tingkatan kesempurnaan dalam mengamalkan puasa di bulan Muharram:
1. Tingkatan Tertinggi (Paling Sempurna): Berpuasa tiga hari berturut-turut, yaitu tanggal 9, 10, dan 11 Muharram. Metode ini juga dipilih oleh Imam Ahmad bin Hambal untuk kehati-hatian dalam menetapkan awal bulan.
2. Tingkatan Menengah (Sangat Utama): Berpuasa dua hari, yaitu pada tanggal 9 Muharram (Puasa Tasu’a) dan 10 Muharram (Asyura). Ini adalah opsi yang paling sesuai dengan keinginan akhir Rasulullah SAW.
3. Tingkatan Standar: Hanya berpuasa satu hari pada tanggal 10 Muharram saja. Menurut kitab Tuhfatul Muhtaj karya Ibnu Hajar Al-Haitami, hal ini tetap sah dan mendapatkan pahala utama, serta tidak dihukumi makruh.
Baca Juga: Peneliti Asal Jepang Ini Masuk Islam Setelah Meneliti Air Zamzam
Bagi umat Islam yang kemarin belum sempat menunaikan puasa Tasu’a pada 9 Muharram, para ulama memberikan solusi fikhiah untuk tetap mendampingi puasa hari ini dengan melaksanakan puasa sunah pada besok hari (11 Muharram).
Pada akhirnya, puasa Asyura adalah refleksi kemenangan tauhid atas kezaliman, sekaligus momentum bagi setiap hamba untuk bersyukur dan membersihkan diri dari noda-noda masa lalu. Selamat menunaikan ibadah puasa Asyura.(Red)
