JAKARTA, TANAMPANEN.COM – Ketegangan geopolitik yang sempat membawa Timur Tengah ke ambang perang besar akhirnya menemui titik terang. Iran dikabarkan tengah melakukan finalisasi terhadap draf memorandum perjanjian damai untuk mengakhiri konflik terbuka dengan Amerika Serikat (AS).
Kabar ini dikonfirmasi langsung oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei. Ia menyatakan bahwa Teheran dan Washington telah mencapai kesepahaman pada sebagian besar poin krusial dalam draf tersebut.
“Saat ini pihak kami sedang melakukan peninjauan internal akhir (finalisasi) terhadap draf perjanjian tersebut sebelum melangkah ke tahap berikutnya,” ujar Baghaei dalam keterangannya.
Baca Juga: Saling Serang Lagi, Harapan Iran-AS Damai Sirna
Mediasi Pakistan dan Proses Dua Tahap
Negosiasi yang melibatkan dua negara yang telah lama berseteru ini berjalan berkat mediasi intensif dari Pakistan. Berdasarkan kesepakatan awal, proses perdamaian ini akan dibagi ke dalam dua tahap utama:
1. Fase Pertama: Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) secara digital atau jarak jauh sebagai bentuk komitmen awal kedua belah pihak untuk menghentikan konflik.
2. Fase Kedua: Pelaksanaan negosiasi detail dan mendalam yang dijadwalkan berlangsung selama 60 hari setelah MoU ditandatangani.
Baca Juga: Usai AS-Iran Saling Serang, Harga Minyak Mentah Dunia Kembali Naik
Poin-Poin Penting Perdamaian
Meskipun draf tersebut masih dalam tinjauan akhir, beberapa poin krusial yang menjadi landasan perdamaian ini telah bocor ke publik, di antaranya:
* Pembukaan Selat Hormuz: Iran sepakat untuk membuka kembali pengelolaan Selat Hormuz secara penuh bagi jalur lalu lintas maritim dan perdagangan internasional demi stabilitas ekonomi global.
* Batas Program Nuklir: Tercapainya konsensus baru mengenai batasan ketat terhadap program pengayaan uranium dan aktivitas nuklir Iran.
* Penghentian Pendanaan Milisi: Komitmen dari pihak Teheran untuk menghentikan dukungan dan pendanaan terhadap kelompok-kelompok milisi di kawasan Timur Tengah.
* Pemulihan Aset: AS sepakat untuk mencairkan dan mengembalikan aset-aset keuangan milik Iran yang selama ini dibekukan akibat sanksi ekonomi.
Langkah ini diharapkan menjadi babak baru yang dapat meredakan ketegangan global secara signifikan, mengingat beberapa bulan sebelumnya kedua negara sempat terlibat aksi saling serang yang memanaskan situasi internasional.(Red)
