Saling Serang Lagi, Harapan Iran-AS Damai Sirna

Saling Serang Lagi, Harapan Iran-AS Damai Sirna

TANAMPANEN.COM — Harapan dunia untuk melihat perdamaian di kawasan Timur Tengah kembali sirna. Nota Kesepahaman (MoU) Kesepakatan Damai yang baru saja ditandatangani di Swiss pada pertengahan Juni 2026 kini berada di ujung tanduk dan terancam batal total setelah Amerika Serikat dan Iran kembali terlibat aksi saling serang.

Gencatan senjata yang awalnya diharapkan membawa angin segar bagi stabilitas politik dan ekonomi global tersebut runtuh dalam hitungan hari. Eskalasi militer ini dipicu oleh serangan drone terhadap sebuah kapal dagang di kawasan Teluk.

Baca Juga: MoU Sudah Diteken, Selat Hormuz Dibuka, Prabowo Harus Gerak Cepat Turunkan BBM

Pihak Amerika Serikat langsung menuding Iran berada di balik serangan tersebut dan menyatakan bahwa Teheran telah melanggar poin-poin krusial dalam kesepakatan damai. Tak tinggal diam, Iran membantah keras tuduhan tersebut dan mengklaim bahwa tudingan AS hanyalah dalih untuk kembali melancarkan serangan udara ke wilayah mereka.

Padahal, MoU yang disepakati sebelumnya bukanlah perjanjian damai permanen, melainkan fase awal yang memberikan masa transisi selama 60 hari. Periode ini seharusnya digunakan oleh kedua belah pihak untuk merundingkan isu-isu sensitif, seperti pembatasan pengayaan uranium, program nuklir Iran, serta pembersihan ranjau demi membuka total jalur perdagangan di Selat Hormuz.

Baca Juga: Trump dan Iran Teken MoU Damai di Istana Versailles

Akibat insiden saling serang ini, situasi di meja diplomasi pun ikut memanas. Delegasi Iran dilaporkan melakukan aksi walk-out dari perundingan lanjutan di Swiss.

Di lapangan, situasi kian mencekam setelah Iran membalas serangan dengan menghantam beberapa pangkalan militer AS di kawasan Teluk dan Selat Hormuz menggunakan rudal dan drone. Dengan runtuhnya komitmen gencatan senjata ini sebelum masa transisi 60 hari selesai, ambisi untuk membuka kembali jalur energi global secara normal kini sepenuhnya sirna.(Red)