Rupiah Nyaris Rp18.000, IHSG Anjlok 1,51 Persen

Rupiah Nyaris Rp18.000, IHSG Anjlok 1,51 Persen

JAKARTA, TANAMPANEN.COM – Pasar keuangan Indonesia kembali mendapat tekanan. Nilai tukar rupiah bergerak mendekati level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 1,51 persen pada perdagangan Senin, 28 September 2026.

Rupiah ditutup di sekitar Rp17.978 per dolar AS, hanya sekitar Rp22 dari level psikologis Rp18.000. Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah penguatan dolar AS dan meningkatnya ketidakpastian global.

Bank Indonesia (BI) memastikan tetap melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas rupiah. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan bank sentral konsisten melakukan intervensi setelah rupiah mencapai level terlemahnya sejak 4 Agustus 2026.

Baca Juga: IHSG Anjlok 2%, Kebijakan Baru Ekspor SDA Prabowo Bikin Investor Tiarap

Sebelumnya, BI mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate pada level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur 22–23 September 2026. BI menyatakan kebijakan tersebut tetap diarahkan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar di tengah tekanan eksternal.

Di pasar saham, tekanan juga cukup besar. IHSG pada perdagangan Senin ditutup turun 94,03 poin atau 1,51 persen ke level 6.147,86. Sebanyak 532 saham melemah, sementara 180 saham menguat dan 81 saham stagnan.

Pelemahan IHSG dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik. Ketidakpastian di kawasan Timur Tengah, kenaikan harga minyak serta imbal hasil obligasi AS menjadi sejumlah faktor yang membebani pasar.

Baca Juga: Asing Jual Rp1 Triliun Usai Pidato Prabowo, IHSG Justru Naik Kuat

Secara mingguan, IHSG juga tercatat melemah 3,71 persen. Kondisi tersebut menunjukkan tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia tidak hanya terjadi dalam satu sesi perdagangan.

Pergerakan rupiah dan IHSG kini menjadi perhatian karena terjadi bersamaan dengan meningkatnya tekanan eksternal. BI sendiri menyatakan akan terus mengoptimalkan instrumen moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar.(Red)