JAKARTA, TanamPanen.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah mulai memicu dampak serius di tingkat pedagang dan konsumen bawah. Alih-alih membawa kesejahteraan merata, masifnya permintaan bahan baku untuk program ini dinilai mendistorsi harga pangan di pasar tradisional, khususnya komoditas sayur-mayur.
Kenaikan harga yang paling mencolok saat ini terjadi pada komoditas wortel. Lonjakan ini dipicu oleh skema pengadaan vendor MBG yang langsung menyerap barang dalam skala besar dari pasar ritel, sehingga memicu kelangkaan bagi konsumen harian.
Pedagang Grosir Pasar Induk Brebes, Mery Dwi Rosfina, membenarkan bahwa program baru tersebut menjadi biang keladi tidak stabilnya harga sayuran saat ini.
Baca Juga: Pusaran Korupsi MBG: Sony Sonjaya Siap Bongkar 30 Nama dan Aktor Besar
Menurutnya, lonjakan harga langsung terjadi begitu komoditas tertentu masuk dalam daftar menu program.
“Karena MBG, wortel jadi naik lagi,” ungkap Mery saat ditemui di lokasi, mengeluhkan dampak langsung yang harus ditanggung masyarakat, Kamis (11/6/2026).
Kondisi ini memicu desakan kuat agar pemerintah segera melakukan evaluasi total. Jika ditimbang dari asas manfaat dan mudarat, kebijakan ini dinilai timpang.
Baca Juga: Modus Penipuan Sony Sonjaya: Jual Titik Dapur MBG Fiktif Senilai Ratusan Juta
Keuntungan finansial dari penyerapan kuantitas besar hanya dinikmati oleh sebagian kecil pihak, sementara dampak buruk berupa inflasi pangan harus dipikul oleh seluruh lapisan masyarakat kecil yang kondisi ekonominya sedang sulit.
Pengamat kebijakan publik menilai, kerusakan harga di pasar tradisional ini membuktikan adanya salah urus dalam manajemen rantai pasok MBG.
Pemerintah didesak segera merombak sistem logistik dengan mewajibkan vendor mengambil pasokan melalui jalur kemitraan khusus petani, bukan berebut barang di pasar umum yang menjadi tumpuan rakyat kecil.(Red)
