TanamPanen.com – Jauh sebelum smartphone menguasai dunia, era 1980-an hingga 1990-an memiliki ikon komunikasinya sendiri: Pager (atau Beeper). Menggunakan teknologi gelombang radio VHF/UHF, pager hadir sebagai solusi bagi mobilitas manusia yang mulai tinggi namun belum memiliki akses ke telepon genggam.
Sistem komunikasi pager sangat unik karena bersifat satu arah. Alat ini tidak memiliki papan ketik maupun mikrofon; ia murni berfungsi sebagai penerima pesan. Proses pengiriman pesan pun harus melibatkan pihak ketiga.
Seseorang yang ingin mengirim pesan harus menghubungi operator pusat via telepon rumah, mendiktekan pesan atau nomor yang dituju, dan operatorlah yang akan memancarkan pesan tersebut ke layar monokrom kecil si pemilik pager.
Baca Juga:;Motorola Agresif: Pujian dari Pengguna, Sinyal Alarm Bagi Kompetitor
Motorola dan Para Raksasa Produsen
Dalam peta industri global, Motorola adalah penguasa mutlak. Perusahaan asal Amerika Serikat ini memelopori teknologi pager sejak tahun 1950-an dan menelurkan seri-seri ikonik seperti Motorola Bravo dan Advisor yang mendominasi pasar dunia. Di belakang Motorola, raksasa elektronik Jepang seperti NEC, Panasonic, dan Sony turut bersaing ketat, disusul oleh Philips yang kuat di pasar Eropa.
Di Indonesia, kejayaan pager diwarnai oleh operator lokal legendaris seperti Starko—yang namanya sempat menjadi kata ganti untuk aktivitas memanggil pager (“di-starko”)—serta Indolink dan Skytel.
Baca Juga: iQOO Z11: Rekor HP Baterai Terbesar di Indonesia, Baru Rilis Harga Langsung Teriris
Meskipun masa kejayaannya ringkas dan langsung meredup begitu HP dengan fitur SMS dua arah yang murah merosot ke pasar pada akhir 90-an, pager tetap tercatat dalam sejarah sebagai jembatan penting yang membuka gerbang menuju era komunikasi instan modern.(Red)
