BREBES, TANAMPANEN.COM – Bagi masyarakat yang tumbuh di era pedesaan beberapa dekade lalu, lobak putih bukanlah sayuran yang asing. Komoditas yang sekilas mirip dengan wortel ini dulunya akrab di meja makan, kerap disantap mentah sebagai lalapan segar bersama daun mudanya, dicocol sambal, dan dinikmati dengan nasi hangat.
Namun kini, lanskap tersebut telah berubah total. Lobak putih seolah menghilang dari lapak-lapak pengecer pasar tradisional dan memilih “naik kelas” ke rak-rak berpendingin di supermarket modern.
Berdasarkan pantauan pasar di pertengahan tahun 2026, fenomena hilangnya lobak dari pasar tradisional bukan disebabkan oleh kelangkaan produksi di hulu. Para petani di sentra sayuran dataran tinggi seperti Dieng (Wonosobo) tetap menanam komoditas ini.
Baca Juga: Mall Sepi Pengunjung dan Pasar Sepi Pembeli, Alarm Keras Bagi Pemerintah!
Sayangnya, bagi para distributor dan pedagang eceran lokal, perputaran lobak dinilai terlalu lambat karena pergeseran budaya konsumsi masyarakat yang tidak lagi akrab dengan menu harian berbahan lobak.
Perubahan jalur distribusi ini menciptakan jurang harga yang sangat kontras antara pasar tradisional dan pasar modern. Hal itu disebabkan kualitas dan olahan kemasan yang memicu harga lebih tinggi.
• Tingkat Petani & Pasar Induk: Harga lobak putih masih sangat ekonomis, bertengger di kisaran Rp4.000 hingga Rp7.000 per kilogram.
• Pasar Swalayan & Supermarket Modern: Setelah melalui proses pencucian, pemangkasan daun, dan pengemasan yang higienis, harganya melonjak tajam hingga menyentuh Rp18.000 sampai Rp25.000 per kilogram.
Baca Juga: Rusak Parah! Bandar Grosir Brebes Pilih Kembalikan Sawi Putih ke Petani
Pergeseran Target Pasar dan Tantangan Distributor
Hilangnya tradisi makan lalap lobak mentah di tingkat rumah tangga membuat pedagang pasar tradisional enggan mengambil risiko menyetok sayuran ini karena sifatnya yang cepat layu. Akibatnya, rantai pasok lobak kini bermigrasi total ke segmen yang lebih spesifik (niche market).
Kini, konsumen utama lobak putih didominasi oleh jaringan Hotel, Restoran, dan Kafe (Horeka)—khususnya penyedia kuliner Tionghoa, Jepang, dan Korea yang membutuhkan pasokan stabil untuk menu sup, oden, maupun acar.
Bagi para pelaku bisnis distribusi sayuran, komoditas ini menawarkan margin yang menggiurkan di tingkat ritel modern, namun menuntut jaringan kontrak yang jelas agar barang tidak mengendap di gudang.
Lobak mungkin telah kehilangan panggungnya di pasar rakyat, tetapi ia berhasil menemukan takhta baru yang lebih eksklusif di etalase kota besar.(Red)
