SURABAYA – Menjelang Muktamar ke-35 PBNU pada Agustus 2026, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA., membuat keputusan mengejutkan. Mantan Ketua Umum PBNU dua periode itu memastikan dirinya tidak akan maju kembali, baik sebagai Calon Ketua Umum (Caketum) maupun Rais Aam PBNU.
“Saya enggak akan maju, sudah tua saya, umur saya sudah 73 (tahun). Tinggal gantian lah, regenerasi yang lebih cerdas dari saya,” ujar Kiai Said sambil berseloroh di Surabaya, Selasa (19/5/2026).
Baca: Ma’na Cum Maghza, Solusi Hukum Islam Lawan Kekakuan Tekstual!
Langkah mundur Kiai Said ini membuka pintu lebar bagi proses regenerasi total di tubuh organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut. Dengan kriteria pemimpin masa depan yang wajib menguasai sanad keilmuan pesantren sekaligus matang secara manajerial global-digital, beberapa nama kuat mulai mencuat ke permukaan:
* KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya): Sang petahana yang sukses membawa visi progresif, digitalisasi organisasi, dan memperkuat posisi NU di kancah internasional.
* KH. Zulfa Mustofa: Wakil Ketua Umum PBNU saat ini. Sosok ulama-intelektual ahli sastra Arab yang sangat diterima oleh kalangan syuriyah maupun tanfidziyah.
* KH. Sadullah Syarofi (Gus Dullah): Putra ulama karismatik (Alm) Mbah Moen, yang memegang legitimasi kultural kuat sebagai tokoh pemersatu di basis pesantren.
* KH. Abdussalam Shohib (Gus Salam): Tokoh muda vokal dari Jombang yang memiliki kedekatan erat dengan arus bawah (PCNU/PWNU) Jawa Timur.
* Gerakan Akademisi-Teknokrat: Figur seperti Prof. Dr. KH. Muhammad Ali Ramdhani (Ketua LP Ma’arif/Sekjen Kemenag) yang dinilai mampu menjawab tantangan “regenerasi cerdas” di bidang tata kelola kelembagaan.
Baca: Analisis Sains di Balik Keajaiban Nabi Musa Membelah Laut Merah
Mundurnya Kiai Said menandai babak baru bagi PBNU. Peta persaingan menuju Muktamar Agustus 2026 kini diprediksi akan bergeser penuh ke tangan para kader muda potensial.(Ren)
