Ma’na Cum Maghza, Solusi Hukum Islam Lawan Kekakuan Tekstual!

Ma’na Cum Maghza, Solusi Hukum Islam Lawan Kekakuan Tekstual!

JAKARTA – Di tengah arus digitalisasi yang sering kali mendangkalkan pemahaman agama, muncul sebuah terobosan metodologi yang kini hangat diperbincangkan di kalangan akademisi dan pesantren: Ma’na Cum Maghza.

Metode ini hadir sebagai jawaban atas keresahan masyarakat terhadap tafsir agama yang sering kali terasa kaku atau justru terlalu bebas tanpa dasar.

Menjaga “Ruh”, Bukan Sekadar “Bungkus”

Dalam Serial Ngaji yang diadakan oleh Rumah KitaB, para pakar menegaskan bahwa memahami hukum Islam tidak boleh berhenti pada literasi tekstual semata (Ma’na).

Dibutuhkan penggalian pesan utama atau signifikansi mendalam (Maghza) agar teks agama yang turun berabad-abad lalu tetap mampu memberikan solusi bagi masyarakat kontemporer di Indonesia.

Prof. Dr. Phil. Sahiron Syamsuddin, M.A., pakar yang juga menjabat sebagai Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kemenag, menjadi narasumber utama dalam membedah tradisi perumusan hukum ini. Kehadiran tokoh sekaliber beliau menegaskan bahwa metodologi ini bukan main-main dan memiliki landasan akademik yang sangat kuat.

Melawan Penafsiran “Asal-Asalan”

Kekhawatiran masyarakat mengenai potensi penyimpangan dalam metode ini dijawab dengan satu syarat mutlak: Kredibilitas Narasumber. Penguasaan ilmu alat klasik seperti Nahwu, Sharaf, Mantiq, hingga Balaghah adalah fondasi yang tidak bisa ditawar.

Tanpa penguasaan bahasa dan logika yang mendalam, penerapan Maghza berisiko menjadi liar dan menyesatkan. Namun, di tangan para ahli yang menguasai tradisi pesantren dan akademik sekaligus, metode ini justru menjadi jembatan emas yang menghubungkan khazanah klasik dengan realitas modern.

Relevansi untuk Masa Kini

Diskusi yang juga menghadirkan Arifah Millati Agustina dari UIN Satu Tulungagung ini menunjukkan bahwa Islam memiliki perangkat intelektual yang dinamis.

Metode Ma’na Cum Maghza memastikan bahwa “mengaji” bukan lagi sekadar menghafal makna harfiah, melainkan memanen solusi nyata untuk tantangan zaman yang kian kompleks.

Catatan Redaksi: Memahami agama memang butuh keberanian untuk berpikir kritis, namun tetap harus bersandar pada pundak para raksasa ilmu yang kredibel.(red)