TanamPanen.com – Di era ketika satelit pemetaan global mampu memperbesar sudut bumi hingga ke halaman rumah kita, gagasan tentang sebuah kota metropolitan canggih yang tersembunyi terdengar seperti naskah film fiksi ilmiah. Namun, di pesisir Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan,
Nama Saranjana bukan sekadar cerita pengantar tidur. Ia adalah sebuah realitas paralel yang hidup, berdenyut, dan belakangan ini justru makin eksis di tengah jagat digital.
Fenomena Saranjana berhasil mendobrak batas antara mistisisme tradisional dan teknologi modern. Ketika para kreator konten, salah satunya Gusti Gina, melakukan penelusuran visual ke kaki Gunung Saranjana di Desa Oka-Oka, publik disuguhkan pada sesuatu yang janggal: rekaman audio sayup-sayup senandung misterius di tengah hutan yang jauh dari pemukiman.
Apakah ini sekadar distorsi frekuensi alam, ataukah tabir dimensi yang sengaja bocor di depan lensa kamera? Untuk membedahnya, kita harus menengok dua jangkar utama yang menahan kisah ini agar tidak runtuh menjadi sekadar bualan: dokumen sejarah kolonial dan memori kolektif para juru kunci.
Baca: Hari Kebangkitan Nasional, Momen Sejarah Tapi Mulai Kehilangan Arah?
Peta Salomon Müller: Ketika Sejarah Mencatat Nama yang Sama
Bagi kelompok skeptis, Saranjana sering kali dituduh sebagai produk halusinasi massal atau taktik pemasaran industri horor modern. Namun, argumen itu langsung patah ketika dihadapkan pada lembaran kartu topografi lama buatan Belanda.
Nama Sarandjana secara hitam di atas putih tercatat dalam peta Kaart van de Kust-en Binnenlanden van Bangermasing buatan naturalis Jerman, Salomon Müller, pada tahun 1845. Tidak hanya satu, nama wilayah ini juga muncul dalam kamus geografis Hindia Belanda beberapa dekade setelahnya.

Bagi para sejarawan lokal, keberadaan nama ini di peta kolonial membuktikan satu hal:
Saranjana secara historis memang pernah ada.
Hanya saja, terjadi benturan interpretasi yang tajam antara catatan akademik dan kepercayaan lokal. Secara ilmiah, para peneliti menduga wilayah itu dulunya merupakan pemukiman nyata—mungkin sebuah semenanjung, wilayah suku Dayak Samihim, atau bagian dari dinamika politik Kerajaan Banjar masa lalu—yang kemudian ditinggalkan tanpa meninggalkan sisa reruntuhan fisik yang masif.
Namun bagi masyarakat, hilangnya peradaban tersebut bukan karena kepunahan, melainkan karena mereka “berpindah alam” ke dimensi yang lebih tinggi.
Baca: Bedah Peribahasa: Ada Udang Dibalik Batu
Kesaksian Juru Kunci: Jembatan Informasi Dua Dimensi
Jika peta kolonial memberikan legitimasi sejarah dari masa lalu, maka para juru kunci (*kuncen*) di Desa Oka-Oka memberikan napas kehidupan pada mitos ini di masa sekarang. Salah satu figur sentral dalam folklore ini adalah Ibu Saniah.
Kisah bagaimana beliau menjadi juru kunci seolah menegaskan garis batas yang kabur antara dunia manusia dan alam gaib. Berawal dari sakit misterius yang dialaminya berpuluh tahun lalu, Ibu Saniah kerap dibawa masuk ke dalam mimpi yang konsisten: sebuah kota metropolitan dengan gedung-gedung pencakar langit yang megah—pemandangan yang mustahil ada di lanskap Kotabaru dunia nyata kala itu.
Melalui negosiasi spiritual dengan entitas yang disebut sebagai pemimpin di sana, ia mengorbankan dirinya bukan untuk menjadi bagian dari dunia gaib tersebut, melainkan menjadi “jembatan informasi” atau agen penghubung agar manusia di dunia nyata tidak merusak kawasan keramat Gunung Saranjana.
Dari sudut pandang ini, kita memahami mengapa penduduk lokal sama sekali tidak merasa ngeri dengan keberadaan Saranjana. Bagi mereka, kota gaib tersebut bukanlah sarang hantu dalam narasi horor konvensional.
Saranjana adalah wilayah tetangga; sebuah peradaban dengan sistem pemerintahan, struktur sosial, bahkan teknologi yang jauh lebih maju, yang kebetulan hanya dipisahkan oleh selembar tabir kasat mata.
Mitos di Era Digital: Fantasi Kolektif yang Menjadi Nyata
Keunikan terbesar dari fenomena Saranjana hari ini adalah bagaimana ia bertransformasi di era digital. Dulu, kisah-kisah seperti manifes alat berat tanpa pemesan atau kapal modern yang terdampar di pantai sunyi karena melihat gemerlap lampu kota hanya berputar dari mulut ke mulut di warung kopi lokal.
Hari ini, internet bertindak sebagai katalis. Bukti-bukti audio berupa suara aneh di kamera atau foto-foto dengan latar belakang buram yang menyerupai gedung tinggi langsung diverifikasi oleh netizen sebagai “bukti fisik.”
Secara psikologi sosial, Saranjana telah berevolusi menjadi sebuah *fantasi urban kolektif*. Ia memuaskan rasa penasaran (*sense of wonder*) manusia modern yang mulai jenuh dengan dunia yang terlalu rasional dan serba terukur oleh algoritma.
Akhir Kata
Menguak tabir Saranjana tidak harus berakhir dengan kesimpulan hitam-putih apakah kota itu nyata atau khayalan.
Jika dicari bukti fisiknya secara geografis modern, kita hanya akan menemukan hamparan bukit hijau yang menjorok ke pantai perawan Pulau Laut. Namun, jika dinilai dari dampaknya terhadap kebudayaan, Saranjana sudah sangat nyata.
Ia hidup dalam peta kuno Salomon Müller, berbicara melalui mulut para juru kunci, dan kini abadi dalam ruang digital sebagai salah satu warisan folklore paling memesona di Indonesia modern.
Penulis: Biren Muhammad
Keterangan: Melalui berbagai sumber terpercaya
