TanamPanen.com – Pernahkah Anda membayangkan bagaimana manusia di abad ke-7 melihat gunung? Bagi masyarakat masa lalu, gunung hanyalah gundukan batu raksasa yang menempel tegak di atas permukaan bumi.
Tidak ada satu pun teknologi saat itu yang bisa mengintip apa yang ada di dalam perut bumi. Namun, sebuah lompatan sains yang terjadi pada tahun 1855 mengubah segalanya.
Penemuan Abad ke-19: Teori Isostasi
Pada tahun tersebut, dua ilmuwan terkemuka, Sir George Biddell Airy dan John Henry Pratt, meneliti anomali gravitasi di sekitar Pegunungan Himalaya.
Melalui perdebatan ilmiah yang panjang, Sir George Biddell Airy merumuskan sebuah teori revolusioner yang kini dikenal sebagai Teori Isostasi.
Baca Juga: Analisis Sains di Balik Keajaiban Nabi Musa Membelah Laut Merah
Airy membuktikan secara matematis bahwa gunung tidak sekadar menempel di permukaan. Agar bisa berdiri tegak dan seimbang, sebuah gunung harus memiliki bagian bawah yang menghunjam sangat dalam ke dalam mantel bumi—sebuah struktur yang secara ilmiah disebut Akar Gunung (Mountain Roots). Bagian yang tersembunyi di dalam bumi ini bahkan bisa mencapai 4 hingga 15 kali lipat dari ketinggian gunung yang terlihat di permukaan.
Selisih Jarak 1.245 Tahun yang Menakjubkan
Sains modern baru berhasil memvalidasi keberadaan akar gunung ini pada pertengahan abad ke-19. Namun, jika kita menarik garis waktu ke belakang, fakta geologi ini sebenarnya sudah tertulis rapi dalam Al-Qur’an yang diturunkan pertama kali pada 17 Ramadan 610 Masehi.
Baca Juga: Mengenal Nama dan Penghuni 7 Lapisan Bumi dalam Literatur Islam
Ada selisih waktu selama 1.245 tahun—lebih dari satu milenium—antara wahyu ilahi dan pembuktian laboratorium sains modern.
Dalam Surah An-Naba’ ayat 6-7, Al-Qur’an menggunakan sebuah metafora yang sangat akurat secara geologis:
“Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?, dan gunung-gunung sebagai pasak (autada)?“
Pemilihan kata Pasak (Autad) adalah sebuah ketepatan visual yang luar biasa. Seperti halnya pasak atau paku tenda, bagian yang menancap ke dalam tanah jauh lebih besar dan dalam fungsinya untuk menstabilkan struktur di atasnya. Persis seperti mekanisme akar gunung yang ditemukan oleh Airy dan Pratt.
Baca Juga: Menguak Misteri As-Safil: Dimensi Ketujuh di Dasar Bumi
Bukti Kemukjizatan Ilmiah
Bagaimana mungkin seorang manusia yang hidup di tengah padang pasir abad ke-7, tanpa alat seismik maupun sensor gravitasi, bisa mengetahui bahwa gunung memiliki struktur menghunjam seperti pasak?
Bagi para ilmuwan dan pemikir, selisih waktu 12 abad ini menjadi bukti nyata tentang kemukjizatan ilmiah Al-Qur’an. Informasi tersebut bukanlah hasil dari pengamatan kasat mata manusia zaman dahulu, melainkan sebuah petunjuk dari Ia yang menciptakan gunung-gunung tersebut. Sains tidak sedang mendahului Al-Qur’an; sains justru sedang berjalan perlahan untuk membuktikan kebenaran yang sudah tertulis di dalamnya.(Ren)
