Petani Menjerit, Harga Rawit Justru Turun Jelang Idul Adha

Petani Menjerit, Harga Rawit Justru Turun Jelang Idul Adha

BREBES, TanamPanen.com – Momentum hari besar keagamaan seperti Idul Adha biasanya menjadi kiblat bagi para petani hortikultura untuk mendulang untung. Hukum pasar yang lazim terjadi: permintaan melonjak, harga pun ikut meroket.

Tahun lalu, sejarah mencatat harga cabai rawit sukses menembus angka Rp50.000 per kilogram di periode yang sama. Sebuah catatan manis yang tertanam kuat di memori para petani sebagai modal harapan untuk tahun ini.

Namun, pasar tradisional acapkali menjadi panggung sandiwara yang paling sulit ditebak, bahkan oleh pakar ekonomi sekalipun.

Baca Juga: Faktor Alam dan Produksi Picu Kenaikan Harga Cabai?

Menjelang Idul Adha kali ini, harapan tersebut justru berbalik menjadi hantaman keras. Harga cabai rawit yang semula sempat bertengger di angka Rp36.000, alih-alih merangkak naik, justru terjun bebas secara drastis hingga menyentuh angka Rp22.000—Rp25.000 per kilogram.

Separuh harga hilang seketika, membawa pergi separuh harapan yang telah dipupuk berbulan-bulan.

Anomali pasar yang menjebak ini ironisnya justru dipicu oleh strategi para petani itu sendiri. Berkaca pada kesuksesan tahun lalu, terjadi aksi tanam dan panen serentak secara masif tanpa adanya komando dan validasi data riil di lapangan.

Baca Juga: Cara Perawatan Cabai Keriting Agar Hasilnya Lebat dan Berkualitas

Dalam ilmu ekonomi, fenomena psikologis ini dikenal sebagai Fallacy of Composition—sebuah kekeliruan berpikir di mana sesuatu yang dianggap baik bagi individu, justru membawa kehancuran massal ketika dilakukan bersama-sama.

Akibatnya, hukum alam bekerja secara agresif: barang melimpah ruah di pasar, sementara daya beli stagnan. Harga pun longsor ke bawah.

Baca Juga: Cabe Jawa, Rempah Khas Indonesia Berkhasiat Bagi Kesehatan

Situasi kian diperparah oleh sifat komoditas cabai yang cepat membusuk (*perishable*). Tanpa adanya posisi tawar dan infrastruktur penyimpanan yang memadai, petani dan pedagang terpaksa melakukan aksi banting harga defensif agar barang habis hari itu juga, daripada harus menanggung rugi total.

Realita pahit ini sekaligus menyingkap celah besar dalam tata kelola agribisnis kita: absennya regulasi resmi yang mampu menata stabilitas harga dari hulu ke hilir.

Selama pemerintah belum hadir dengan regulasi zonasi kuota tanam, jaring pengaman harga terendah (floor price), serta manajemen logistik pangan yang kuat, sektor pertanian hortikultura akan selalu berjalan seperti hutan rimba.

Bagi para petani di tingkat tapak, anjloknya harga hingga separuh nilai ini bukan sekadar simulasi angka di atas kertas. Ini adalah tentang hilangnya biaya pupuk, keringat yang tak terbayar, modal yang terkikis habis, dan jeritan pasrah di tengah momen yang seharusnya penuh berkah.(Ren)