TANAMPANEN.COM – Pelatih Timnas Senegal, Pape Thiaw, kembali menjadi sorotan dunia setelah sikapnya yang teguh dalam menempatkan ibadah di atas segalanya.
Pada Jumat, 13 Juni 2026, saat badai tornado dan angin kencang melanda New Jersey, FIFA dan otoritas setempat mengimbau seluruh tim untuk tetap berada di hotel demi keselamatan. Namun, Thiaw bersama skuadnya tetap keluar demi menunaikan Shalat Jumat berjamaah.
Dalam konferensi pers, Thiaw menegaskan bahwa tidak ada yang lebih penting daripada salat.
“Apakah ada yang lebih penting daripada salat? Kalian takut pada angin, sementara kami takut kepada Tuhan yang menciptakan angin,” ujarnya tegas.
Baca Juga: Shalat Jalan, Maksiat Jalan: Ada yang Salah dengan Sujud Kita?
Ia bahkan menambahkan, jika suatu saat final Piala Dunia berbenturan dengan Shalat Jumat, dirinya rela timnya didiskualifikasi atau kehilangan gelar juara.Sikap ini memicu reaksi luas.
Media internasional menyoroti keberanian Thiaw menempatkan prinsip agama di atas kepentingan olahraga. Publik pun terbelah: sebagian mendukung keteguhan iman sang pelatih, menganggapnya sebagai teladan moral, sementara lainnya menilai langkah itu berisiko bagi keselamatan tim.
Baca Juga: Karomah Mbah Arwani: Menuju Madinah dalam Sekejap
Di Senegal sendiri, banyak tokoh agama dan masyarakat memberikan dukungan penuh. Mereka menyebut Thiaw sebagai contoh nyata bahwa seorang muslim harus menempatkan kewajiban ibadah di atas segala urusan duniawi.
Di sisi lain, sejumlah analis olahraga menilai sikap ini bisa menimbulkan polemik jika suatu saat benar-benar terjadi benturan jadwal antara pertandingan penting dan Shalat Jumat.
Meski menuai kontroversi, Thiaw tetap teguh pada pendiriannya. Baginya, Shalat Jumat adalah kewajiban yang tidak bisa ditawar, bahkan jika harus mengorbankan peluang juara dunia. Sikap ini menjadikan Pape Thiaw bukan hanya pelatih sepak bola, tetapi juga simbol keteguhan iman di panggung olahraga internasional.(Red)
