TanamPanen.com – Nalar manusia memiliki batas, namun kuasa Allah melampaui segala batas. Bagi para kekasih Allah (waliyullah) yang telah mengikis ego dan memenuhi hatinya dengan cinta kepada Sang Pencipta dan Rasul-Nya, jarak ribuan kilometer bisa meluas atau menyempit hanya dalam satu kedipan mata.
Kisah antara KH. M. Arwani Amin Kudus dan gurunya, KH. Mansur bin Hadi Popongan, Klaten, adalah salah satu bukti nyata bagaimana adab dan ketulusan seorang murid mampu membuka pintu mukasyafah dan karomah yang luar biasa.
Ujian Adab di Ruang Perawatan
Kisah ini bermula saat Mbah Mansur Popongan, yang merupakan mursyid thariqah dari Mbah Arwani, sedang terbaring sakit dan menjalani perawatan di sebuah rumah sakit di Kota Solo. Sebagai murid yang penuh takzim, Mbah Arwani datang menjenguk untuk berkhidmat dan menemani sang guru.
Di tengah suasana hening ruang perawatan, Mbah Mansur tiba-tiba menyampaikan sebuah keinginan yang tidak biasa:
”Arwani, aku pengen banget dhahar kurma ijo (ruthob). Apa sampeyan bisa nggolekke?!”
(Arwani, saya ingin sekali makan kurma hijau. Apakah kamu bisa mencarikannya?)
Bagi logika awam pada masa itu—sekitar pertengahan abad ke-20—permintaan ini terasa mustahil. Kurma hijau atau ruthob adalah kurma basah yang segar dan tidak tahan lama. Pada zaman itu, jangankan di Solo atau Kudus, di seluruh penjuru Indonesia pun hampir mustahil menemukan buah tersebut karena keterbatasan transportasi internasional.
Namun, di sinilah letak bedanya seorang murid spiritual sejati. Mbah Arwani tidak bertanya “Bagaimana caranya?” atau “Di mana saya harus mencari?”. Tanpa keraguan sedikit pun, beliau langsung mengiyakan dengan penuh hormat demi menyenangkan hati sang guru.
Baca Juga: Ilmuwan Temukan Teori Bersyukur Bisa Menyehatkan Tubuh
Karomah Thayyal Ardhi (Melipat Bumi)
Begitu melangkah keluar dari pintu kamar rumah sakit, sebuah keajaiban besar terjadi atas izin Allah. Jarak ribuan mil antara Solo dan Jazirah Arab mendadak sirna. Mbah Arwani seketika mendapati dirinya sudah berdiri di tengah hiruk-pikuk pasar di Kota Madinah Al-Munawwarah.
Tanpa membuang waktu, beliau segera mencari dan membeli kurma hijau segar pesanan gurunya. Setelah amanah tersebut terpenuhi, kerinduan yang mendalam kepada baginda Nabi Muhammad \text{SAW} menuntun langkah kaki beliau menuju Masjid Nabawi untuk berziarah ke Raudhah dan menunaikan shalat.
”Selesai Shalat Langsung Pulang, Ya?”
Saat sedang khusyuk melaksanakan shalat di dalam Masjid Nabawi, Mbah Arwani dikejutkan oleh sebuah pemandangan yang menggetarkan ruhaninya. Di barisan (shaf) belakangnya, tampak sesosok pria yang sangat ia kenal sedang ikut shalat. Pria itu tidak lain adalah gurunya sendiri, Mbah Mansur Popongan, yang seharusnya masih terbaring lemas di ranjang rumah sakit di Solo.
Begitu shalat usai, Mbah Mansur mendekati Mbah Arwani dan berkata dengan suara yang sangat tenang namun berwibawa:
”Arwani, bar shalat langsung bali, ya?”
(Arwani, selesai shalat langsung pulang, ya?)
Mbah Arwani dengan tubuh gemetar penuh takzim menjawab:
”Nggih, Mbah Yai…“
Seketika itu pula, kesadaran ruang kembali berpindah. Mbah Arwani telah kembali berada di koridor rumah sakit Solo, lengkap dengan kantong berisi kurma hijau segar di tangannya, siap untuk dihaturkan kepada sang guru.
Baca Juga: Ilmuwan Ini Temukan Teori Nyawa Manusia Pindah ke Dimensi Lain Setelah Meninggal
Hikmah Spiritual di Balik Kisah
Kisah manaqib yang masyhur di kalangan pesantren ini menyimpan pelajaran yang sangat dalam mengenai hubungan guru dan murid:
Kurma Hijau sebagai Imtihan (Ujian): Permintaan Mbah Mansur bukanlah karena beliau lapar atau mengidam, melainkan sebuah ujian kepatuhan (imtihan) untuk menguji kemantapan tauhid dan kepatuhan Mbah Arwani.
Penjagaan Sang Guru: Kehadiran Mbah Mansur di Madinah menunjukkan bahwa seorang guru sejati tidak pernah melepaskan pandangan ruhaninya dari sang murid. Mbah Mansur “menjemput” Mbah Arwani agar sang murid tidak terlena atau takjub dengan keajaiban karomah thayyal ardhi tersebut. Guru menjaga muridnya agar tetap menapak bumi dan fokus pada inti ketaatan.
Adab di Atas Segalanya: Karomah melipat bumi yang dialami Mbah Arwani bukanlah hasil dari ambisi mencari kesaktian, melainkan buah manis dari ketulusan berkhidmat kepada guru.
Bagi para kekasih Allah, keajaiban lahiriah seperti ini hanyalah “mainan” kecil di jalan dakwah. Inti dari seluruh karomah adalah keistiqamahan dalam menjaga syariat, adab, dan kebersihan hati hingga akhir hayat.
Lahumul Fatihah…
