TanamPanen.com – Panggung politik tanah air kembali dihangatkan oleh pernyataan kontroversial dari Immanuel Ebenezer (Noel). Mantan Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) sekaligus Ketua Relawan Jokowi Mania/Prabowo Mania tersebut melemparkan peringatan keras kepada Presiden Prabowo Subianto mengenai potensi terjadinya gejolak sosial besar yang ia sebut sebagai “Peristiwa 98 Jilid 2”.
Dalam sebuah rekaman video yang beredar di media sosial, Noel secara gamblang mengklaim adanya gerakan sistematis yang matang untuk menggoyang pemerintahan saat ini. Berikut kutipan pernyataan resminya:
“Saya coba ingatkan Pak Prabowo, dalam bulan Juni–Juli ini akan ada peristiwa besar, ada eskalasi politik yang ujungnya adalah menggulingkan pemerintahan Prabowo. Dan konsolidasi ini sudah selesai dan sudah matang. Konsolidasi sipil, konsolidasi mahasiswa, konsolidasi buruh, konsolidasi kelompok civil society, dan semuanya. Tinggal satu, butuh satu pemicu. Dan 98 jilid 2 akan terjadi tidak lama lagi.”
Baca Juga: Ribuan Massa Gelar Aksi Demonstrasi di Gambir, Tuntut Cabut Mandat Prabowo
“Jika Pak Prabowo tidak peka terhadap kejadian ini, kita sudah lihat. Dollar semakin tinggi, indeks harga saham gabungan kita juga sudah bablas. Itu adalah salah satu indikator bahwa ke depan nanti ada gejolak sosial. Yang indikatornya adalah gejolak ekonominya.”
“Pertama, Pak Prabowo harus mampu mencari kawan yang strategis dan kawan loyal. Pertama, kawan loyal dan partai loyal adalah partai PDIP. Kedua, barisan Habib Rizieq yang hari ini luar biasa punya loyalitas kepemimpinannya. Dan PDIP juga punya loyalitas ideologis. Jangan cari partai yang ke sana ke sini. Dan jangan cari kawan yang hanya orientasinya di jabatan dan uang. Kasihan Pak Prabowo. Beliau orientasi kebangsaannya luar biasa.”
Analisis Pakar Ekonomi: Menakar Realitas vs Hiperbola Politik
Meskipun Noel menggunakan indikator pelemahan Rupiah dan fluktuasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebagai dasar argumentasinya, para pakar ekonomi makro dan lembaga finansial memiliki pandangan yang jauh berbeda.
Menyamakan kondisi ekonomi saat ini dengan krisis multidimensi tahun 1998 dinilai sebagai bentuk hiperbola politik yang tidak berbasis data.
Berikut adalah perbandingan riil kondisi indikator makroekonomi saat ini dibandingkan dengan masa krisis 1998 menurut para analis:
* Pertumbuhan Ekonomi yang Kontras
Pada tahun 1998, ekonomi Indonesia kolaps hingga minus 13,1\%. Sebaliknya, kondisi saat ini sangat solid dengan pertumbuhan positif di kisaran 4,9\% hingga 5,3\%. Proyeksi IMF dan World Bank menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan performa paling stabil di dunia.
* Inflasi yang Jauh Lebih Terkendali
Saat krisis 1998, inflasi melonjak tidak terkendali hingga menyentuh angka 77\%, yang memicu kelangkaan barang pokok. Saat ini, Bank Indonesia (BI) berhasil menjaga inflasi dengan sangat ketat di dalam sasaran target 2,5\% \pm 1\%, sehingga daya beli masyarakat tetap aman.
* Kesehatan Sektor Perbankan
Tahun 1998 ditandai dengan rontoknya sistem perbankan nasional (systemic banking crisis). Saat ini, rasio kecukupan modal (CAR) dan likuiditas perbankan Indonesia berada dalam kondisi sangat sehat di bawah pengawasan ketat OJK, sehingga risiko penarikan massal (bank run) hampir tidak ada.
* Faktor Pemicu Nilai Tukar Dolar
Depresiasi Rupiah pada 1998 dipicu oleh rapuhnya struktur internal dan tumpukan utang swasta yang jatuh tempo. Sedangkan pergerakan kurs dolar saat ini murni merupakan imbas dari sentimen eksternal global (seperti kebijakan suku bunga tinggi AS dan tensi geopolitik). Bantalan ekonomi RI pun jauh lebih kuat berkat cadangan devisa yang masih sangat tebal.
Baca Juga: Naniek S Deyang Jadi Kepala BGN, Ini Kiprah dan Loyalitasnya ke Prabowo!
Kesimpulan Ekonom
Para analis ekonomi menegaskan bahwa fluktuasi IHSG dan pergerakan nilai tukar belakangan ini adalah **reaksi pasar yang lumrah** terhadap dinamika global. Secara fundamental, struktur ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih siap dan memiliki sinergi kebijakan yang kuat melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).
Oleh karena itu, narasi bahwa ekonomi saat ini akan memicu gejolak sosial setingkat tahun 1998 dinilai tidak memiliki landasan ilmiah yang kuat dan cenderung bermotif politik praktis.(Red)
