BREBES, TANAMPANEN.COM – Pergantian tahun baru Hijriah yang dalam kalender Jawa dikenal sebagai 1 Suro kerap kali disambut dengan atmosfer yang kontras di tengah masyarakat. Di satu sisi, momen ini dirayakan penuh khidmat sebagai waktu ibadah, namun di sisi lain, malam 1 Suro masih lekat dengan stigma mistis dan ritual klenik.
Esensi asli dari transisi tahun ini sejatinya adalah pembersihan spiritual, pemanjatan doa, serta momentum untuk melakukan introspeksi diri secara mendalam (muhasabah).
Baca Juga: Mengenal Nama dan Penghuni 7 Lapisan Bumi dalam Literatur Islam
Doa Awal Tahun: Spiritualitas yang Utama
Bagi umat Muslim, malam pergantian tahun yang dimulai selepas waktu maghrib pada 1 Muharram diawali dengan pembacaan doa awal tahun. Doa ini menjadi simbol optimisme dan kepasrahan kepada Sang Pencipta dalam menghadapi lembaran hidup yang baru.
Inti dari doa awal tahun mencakup tiga permohonan utama: memohon perlindungan dari godaan setan, meminta kekuatan batin agar mampu mengendalikan hawa nafsu yang mendorong pada keburukan, serta memohon bimbingan agar hari-hari ke depan diisi dengan amalan yang mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Melalui doa ini, pergantian tahun ditempatkan sebagai fase sakral yang murni religius.
Pergeseran Makna Tradisi 1 Suro
Namun, mengapa 1 Suro begitu identik dengan hal-hal klenik di benak publik? Sejarah mencatat, fenomena ini berakar dari kebijakan Sultan Agung, Raja Kesultanan Mataram, pada tahun 1633 Masehi. Saat itu, beliau melakukan akulturasi dengan menyatukan sistem penanggalan Saka (Hindu-Jawa) dan kalender Hijriah (Islam) menjadi Kalender Jawa. Langkah strategis ini diambil demi menyatukan rakyat dan memperkuat syiar Islam di tanah Jawa.
Penyatuan tersebut otomatis menggeser ritual adat menyambut tahun baru Saka ke malam 1 Suro. Sultan Agung awalnya mengarahkan malam ini sebagai waktu untuk tirakat—menahan hawa nafsu—melalui amalan prihatin seperti tapa bisu (berjalan tanpa bicara), kungkum (berendam di pertemuan sungai), dan lelaku (tidak tidur semalam suntuk untuk berzikir).
Baca Juga: NU: Karmin Haram dan Najis, Ini Daftar Makanan dan Minuman Mengandung Karmin
Sayangnya, esensi laku prihatin yang sunyi dan dilakukan tengah malam tersebut sering kali disalahartikan oleh generasi setelahnya maupun orang luar. Aktivitas yang mulanya bertujuan untuk menyuci jiwa dan mendekatkan diri pada Tuhan, bergeser makna di mata publik menjadi ritual misterius untuk mencari wangsit, memburu berkah magis lewat jamasan (pencucian) pusaka, hingga mitos tentang terbukanya gerbang dunia gaib.
Meluruskan Esensi: Silent Operation untuk Jiwa
Menyikapi salah kaprah yang telah berlangsung lama ini, para tokoh agama dan budaya terus mengingatkan masyarakat untuk mengembalikan semangat 1 Suro ke khitah aslinya. 1 Suro bukanlah malam yang harus ditakuti karena dianggap membawa sial atau dipenuhi aura mistis negatif.
Sebaliknya, malam 1 Suro adalah momentum terbaik untuk melakukan “silent operation” bagi jiwa—sebuah gerakan senyap untuk mengevaluasi diri, membangun aset spiritual secara personal, dan menyusun strategi hidup yang lebih baik ke depan tanpa perlu memamerkan prosesnya ke publik.
Dengan memperbanyak bacaan doa awal tahun dan memahami sejarah akulturasi budaya secara jernih, masyarakat diharapkan dapat memilah mana tuntunan agama yang murni dan mana mitos budaya yang tidak perlu lagi diyakini secara berlebihan.(Red)
