BEIJING, TANAMPANEN.COM — Para ilmuwan militer China dari National University of Defense Technology (NUDT) berhasil mengembangkan inovasi berbasis navigasi bintang (celestial navigation) untuk meningkatkan akurasi dan ketahanan sistem pemantauan rudal hipersonik buatan mereka.
Teknologi ini dirancang untuk mengatasi kendala utama rudal hipersonik saat meluncur dengan kecepatan di atas Mach 5. Gesekan ekstrem antara badan rudal dengan atmosfer menciptakan lapisan plasma panas yang memancarkan cahaya pijar, memicu gangguan optik, serta menyumbat sinyal navigasi berbasis satelit (GPS/Beidou).
Baca Juga: Kreator China Ciptakan Pedang Terbang dengan Sensor Sarung Tangan
Melalui terobosan sensor star tracker terbaru, ilmuwan China mampu memfilter pijar plasma tersebut sehingga sensor onboard tetap dapat mengunci posisi bintang di langit secara presisi.
Fungsi dan Keunggulan Teknologi Navigasi Bintang
* Navigasi Mandiri Tanpa Satelit: Bintang di ruang angkasa berfungsi sebagai titik acuan lokasi absolut yang konstan. Rudal dapat menghitung posisi dan arah jalurnya secara real-time tanpa bergantung pada sinyal luar.
* Kebal Perang Elektronik (Anti-Jamming): Tidak seperti sinyal satelit navigasi yang rentan diacak (jammed) oleh sistem pertahanan udara musuh, posisi bintang tidak dapat diinterferensi oleh perangkat pemancar gelombang elektronik apa pun.
* Akurasi Tinggi di Kecepatan Ekstrem: Sensor optik yang telah disempurnakan memastikan pemantauan posisi rudal tetap stabil meski terbang melewati suhu dan tekanan udara yang sangat tinggi.
Baca Juga: CEO BYD dengan Kekayaan Rp390 T Kepergok Masih Pakai Transportasi Umum di China
Penerapan metode navigasi celestial ini menegaskan langkah China dalam menyempurnakan alutsista hipersoniknya agar tetap memiliki daya hantam yang presisi tinggi di tengah skenario perang elektronik modern.(Ren)
