KIZLYAR, TANAMPANEN.COM — Di tengah era digital yang mulai masif pada tahun 2009 lalu, sebuah fenomena tak biasa dari sebuah kota kecil bernama Kizlyar di Dagestan, wilayah selatan Rusia, mendadak menjadi pusat perhatian dunia.
Seorang bayi laki-laki berusia 9 bulan bernama Ali Yakubov, menjadi magnet bagi ribuan peziarah dan sorotan media internasional setelah kulitnya dilaporkan memunculkan guratan merah berbentuk tulisan Arab yang membentuk ayat-ayat suci Al-Qur’an.
Kala itu, media-media besar seperti Reuters, BBC, hingga The Moscow Times turut mewartakan kejadian ini. Ibu sang bayi, Madina Yakubova, menceritakan bahwa tanda kemerahan tersebut awalnya dikira sebagai tanda lahir biasa. Namun, tanda itu perlahan berubah membentuk huruf-huruf Arab kuno, termasuk tulisan “Alhamdulillah” (Segala puji bagi Allah).
Menurut kesaksian keluarganya, tulisan-tulisan tersebut muncul setiap beberapa hari sekali—biasanya pada hari Senin dan Kamis—sebelum akhirnya memudar dan digantikan oleh ayat yang baru. Fenomena ini sontak membuat rumah sederhana keluarga Yakubov bertransformasi menjadi situs ziarah yang dipadati ratusan orang setiap harinya demi melihat langsung kejadian luar biasa tersebut.
Baca Juga: Analisis Sains di Balik Keajaiban Nabi Musa Membelah Laut Merah
Antara Kejadian Luar Biasa dan Penjelasan Medis
Bagi tokoh agama dan otoritas lokal di Dagestan, fenomena Ali Yakubov dianggap sebagai bentuk kejadian luar biasa atau tanda kekuasaan Allah yang nyata untuk mempertebal keimanan.
Terlebih, saat itu wilayah Dagestan tengah didera kemiskinan dan ketegangan akibat konflik bersenjata kelompok radikal. Kehadiran bayi ini dianggap membawa pesan perdamaian dan harapan baru bagi masyarakat setempat.
Namun, dari sudut pandang ilmiah, para pakar medis menanggapi fenomena ini dengan skeptis. Para dokter spesialis kulit (dermatolog) menduga kuat bahwa kondisi tersebut merupakan manifestasi dari Dermatographia (dermatografisme), sebuah kondisi klinis di mana kulit seseorang sangat sensitif terhadap goresan ringan sekalipun, sehingga memicu pelepasan histamin yang membuat kulit membengkak merah membentuk pola tertentu.
Baca Juga: Criss Angel: Pesulap Handal Padukan Trik, Ilusi, dan Sains Seolah Magic
Dugaan rekayasa fisik menggunakan zat kimia ringan juga mencuat. Indikasi ini diperkuat oleh laporan sang ibu yang menyebutkan bahwa Ali selalu mengalami demam tinggi hingga 40^\circ\text{C} dan menangis kesakitan sesaat sebelum tulisan tersebut “muncul”—sebuah gejala yang secara medis identik dengan reaksi peradangan atau iritasi akut pada kulit.
Bagaimana Kondisinya Sekarang?
Hingga kini, tidak pernah ada pembuktian hukum atau investigasi laboratorium independen yang berhasil dilakukan karena keterbatasan akses yang diberikan oleh pihak otoritas dan keluarga.
Kini, setelah hampir dua dekade berlalu, Ali Yakubov diperkirakan telah tumbuh menjadi seorang remaja berusia sekitar 17 tahun. Seiring meredanya tensi politik di wilayah tersebut dan bertambahnya usia Ali, kabar mengenai dirinya telah hilang sepenuhnya dari radar media.
Baca Juga: Bukan Hilang Misterius, Begini Kisah Tentang Ilmuwan Dr Irwin Moon
Tulisan di kulitnya dilaporkan telah berhenti muncul sejak bertahun-tahun lalu, dan keluarganya memilih untuk kembali hidup tenang di luar sorotan publik.
Fenomena Ali Yakubov kini tetap tercatat dalam arsip digital global sebagai salah satu peristiwa paling menghebohkan di tahun 2009—sebuah ruang abu-abu yang mempertemukan batas antara keyakinan spiritual dan analisis sains modern.(Red)
