KAIRO, TANAMPANEN.COM – Ungkapan legendaris dari ulama pembaru asal Mesir, Syekh Muhammad Abduh, kembali menjadi refleksi mendalam bagi dunia Islam. Tokoh perintis modernisme Islam abad ke-19 ini pernah melontarkan kalimat yang menampar kesadaran umat:
“Saya melihat Islam di Eropa, tetapi saya tidak melihat orang Muslim. Dan saya melihat orang Muslim di dunia Islam, tetapi saya tidak melihat Islam.”
Kalimat tersebut bukan sekadar sanjungan terhadap Barat, melainkan sebuah otokritik tajam yang ia rasakan langsung saat melakukan perjalanan intelektual dan spiritual ke Eropa Barat, termasuk Prancis dan Inggris, setelah masa pengasingannya dari Mesir.
Baca Juga: Peneliti Asal Jepang Ini Masuk Islam Setelah Meneliti Air Zamzam
Ironi Nilai dan Perilaku
Syekh Muhammad Abduh, yang kelak menjabat sebagai Mufti Besar Mesir, mengaku terpukau dengan tatanan hidup masyarakat Eropa kala itu. Ia menyaksikan interaksi sosial yang dipenuhi disiplin tinggi, ketertiban umum, kebersihan kota, penghargaan terhadap waktu, serta penegakan hukum yang konsisten.
Bagi Abduh, esensi dari perilaku masyarakat Eropa tersebut merupakan cerminan murni dari ajaran Al-Qur’an dan Sunnah. Ironisnya, keteraturan hidup seperti itu justru sangat sulit ditemukan di tanah kelahirannya maupun negara-negara mayoritas Muslim lainnya pada masa itu, yang justru sedang terjebak dalam stagnasi, keterbelakangan, dan pengabaian terhadap ruang publik.
“Umat Islam memiliki teksnya (ajaran), sementara bangsa lain mempraktikkan substansinya,” ungkap Abduh dalam catatan pemikirannya.
Baca Juga:;Guru Besar Matematika Ini Masuk Islam Ketika Tahu dan Baca Al-Qur’an
Gugatan Terhadap Sikap Taklid
Melalui pengamatan tersebut, Abduh menyimpulkan bahwa kemunduran umat Islam bukan disebabkan oleh agamanya, melainkan karena hilangnya tradisi berpikir kritis dan merebaknya sikap taklid (mengikuti pendapat masa lalu secara buta).
Ia melihat masyarakat Muslim saat itu terlalu berfokus pada kesalehan ritual yang bersifat individual, namun mengabaikan kesalehan sosial yang mengatur ketertiban, keadilan, dan profesionalisme dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara di Eropa, meskipun masyarakatnya tidak menjalankan syariat secara formal, nilai-nilai universal Islam tentang keadilan dan kedisiplinan telah melembaga menjadi budaya kolektif.
Inspirasi bagi Kebangkitan Umat
Catatan perjalanan dan kegelisahan Muhammad Abduh ini kemudian dibukukan dan disebarluaskan melalui majalah Al-Manar yang ia kelola bersama muridnya, Rashid Rida.
Pemikiran ini menjadi bahan bakar gerakan reformasi pendidikan dan sosial di berbagai belahan dunia, termasuk menginspirasi para tokoh pergerakan Islam di Indonesia pada awal abad ke-20 untuk mendirikan lembaga pendidikan modern.
Hingga hari ini, refleksi Muhammad Abduh tentang “melihat Islam di Eropa” tetap menjadi alarm penting. Pesan yang ditinggalkannya sangat jelas: sebuah peradaban dinilai islami bukan hanya dari simbol atau kuantitas penduduknya, melainkan dari sejauh mana nilai-nilai luhur agama tersebut memanifestasi dalam karakter, kedisiplinan, dan moralitas masyarakatnya di ruang publik.(Red)
