Benarkah Rupiah Jadi Mata Uang Terendah Se-Asia?

Benarkah Rupiah Jadi Mata Uang Terendah Se-Asia?

JAKARTA, TANAMPANEN.COM – Nilai tukar rupiah yang mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir memunculkan anggapan bahwa rupiah telah menjadi mata uang terendah atau paling lemah di Asia. Namun, benarkah demikian?

Secara nominal, rupiah memang memiliki angka tukar yang besar terhadap dolar Amerika Serikat. Satu dolar AS dapat ditukar dengan ribuan rupiah, sehingga sering menimbulkan kesan bahwa nilai mata uang Indonesia sangat rendah dibandingkan negara lain. Padahal, besaran nominal tidak bisa dijadikan satu-satunya ukuran untuk menilai kekuatan sebuah mata uang.

Jika yang dimaksud adalah nilai nominal terhadap dolar AS, rupiah bukanlah mata uang dengan nilai terendah di Asia. Beberapa mata uang lain memiliki nilai tukar yang lebih rendah terhadap dolar AS, seperti dong Vietnam, kip Laos, maupun rial Iran.

Di sisi lain, jika yang dimaksud adalah kinerja nilai tukar dalam periode tertentu, rupiah memang sempat menjadi salah satu mata uang Asia yang mengalami pelemahan paling besar. Kondisi ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan domestik.

Baca Juga: Pidato Prabowo Picu Kepanikan Pasar Saham, Rupiah Makin Lemah

Para ekonom menilai tekanan terhadap rupiah tidak berdiri sendiri. Ketidakpastian ekonomi global, konflik geopolitik, serta arus modal yang mengalir ke aset-aset yang dianggap lebih aman mendorong penguatan dolar AS. Dampaknya, banyak mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, ikut tertekan.

Selain faktor global, pelaku pasar juga memperhatikan kondisi ekonomi domestik. Sentimen investor terhadap kebijakan pemerintah, kondisi fiskal, prospek pertumbuhan ekonomi, hingga stabilitas regulasi turut memengaruhi minat investasi di Indonesia.

Dalam konteks ini, pelemahan rupiah tidak bisa semata-mata dikaitkan dengan satu faktor, seperti perang atau kebijakan suku bunga AS. Keduanya justru saling berkaitan. Ketegangan global dapat memicu inflasi dan ketidakpastian ekonomi, yang kemudian memengaruhi kebijakan bank sentral AS.

Baca Juga: Rupiah Akhirnya Menguat, BI: Terimakasih Pak Purbaya

Selanjutnya, perubahan suku bunga AS berdampak pada pergerakan modal internasional dan nilai tukar berbagai mata uang, termasuk rupiah.

Dengan demikian, anggapan bahwa rupiah merupakan mata uang terendah se-Asia tidak sepenuhnya tepat. Jika dilihat dari nilai nominal, masih ada sejumlah mata uang Asia yang nilainya lebih rendah terhadap dolar AS.

Namun, jika dilihat dari performa atau tingkat pelemahannya dalam periode tertentu, rupiah memang dapat menjadi salah satu mata uang yang paling tertekan di kawasan.

Perbedaan antara nilai nominal dan kinerja nilai tukar inilah yang sering kali menimbulkan kesalahpahaman dalam memahami posisi rupiah di tengah dinamika ekonomi global.(Red)