Israel Berulah: Serang Libanon Hingga Iran Tutup Kembali Selat Hormuz

Israel Berulah: Serang Libanon Hingga Iran Tutup Kembali Selat Hormuz

TIMUR TENGAH, TANAMPANEN.COM – Situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali membara. Ketegangan meningkat drastis setelah Israel dilaporkan kembali melancarkan aksi militer ke wilayah Lebanon.

Merespons tindakan tersebut, Iran mengambil langkah ekstrem dengan menutup kembali Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan dan distribusi energi paling krusial di dunia.

Ketegangan Kembali Pecah

Aksi nekat Israel yang terus menggempur wilayah Lebanon Selatan dinilai menjadi pemicu utama batalnya stabilitas kawasan yang baru saja diupayakan lewat diplomasi internasional. 

Pihak Iran, melalui Komando Militer Tertinggi Khatam al-Anbiya, langsung bereaksi keras dengan mengumumkan pemblokiran Selat Hormuz bagi jalur kapal dagang.

Iran menegaskan bahwa serangan Israel merupakan pelanggaran fatal terhadap komitmen perdamaian, sehingga penutupan jalur laut ini menjadi langkah defensif untuk menekan sekutu Israel.

Baca Juga: MoU Sudah Diteken, Selat Hormuz Dibuka, Prabowo Harus Gerak Cepat Turunkan BBM

AS Gagal, Pengawalan Militer Diperketat

Di sisi lain, Amerika Serikat kini menjadi sorotan tajam dan dinilai gagal total dalam meredam serta menghentikan aksi militer sekutu terdekatnya tersebut. Kegagalan diplomasi ini memaksa AS mengambil jalur militer untuk mengamankan kepentingan ekonomi.

Komando Pusat AS (CENTCOM) langsung merespons dengan memperketat pengawalan kapal-kapal dagang. Pihak AS membantah adanya penutupan total dan mengklaim lalu lintas maritim tetap dipaksakan berjalan di bawah perlindungan ketat armada militer mereka demi menjaga kebebasan navigasi.

Baca Juga: Trump dan Iran Teken MoU Damai di Istana Versailles

Ancaman Krisis Energi Global

Penutupan kembali Selat Hormuz ini dipastikan akan memperparah krisis energi dan logistik global yang terjadi sepanjang tahun 2026.

Sebagai jalur utama yang dilewati sepertiga pasokan minyak mentah dunia via laut, konflik di selat ini berpotensi memicu lonjakan harga minyak global serta mengganggu rantai pasok komoditas internasional dalam waktu dekat.

Hingga saat ini, situasi di sekitar Selat Hormuz masih berada dalam status siaga tinggi, menunggu langkah diplomasi lanjutan untuk mencegah eskalasi yang lebih luas.(Red)