Ketika Mahasiswa Teriak ‘Revolusi’, Petani: Revolusi Ndasmu!

Ketika Mahasiswa Teriak ‘Revolusi’, Petani: Revolusi Ndasmu!

JAKARTA, TANAMPANEN.COM – Sebuah video singkat yang diunggah melalui platform TikTok mendadak viral dan memicu perdebatan hangat di jagat maya. Video tersebut merekam kontras tajam antara narasi pergerakan mahasiswa di jalanan dengan realitas yang dirasakan oleh masyarakat akar rumput di sektor agraria.

Dalam video yang beredar, aksi unjuk rasa kelompok mahasiswa yang meneriakkan tuntutan “Revolusi” langsung direspons secara menohok oleh seorang petani yang tengah memantau sawahnya. Menggunakan bahasa Jawa yang lugas dan tanpa filter, petani tersebut meluapkan kejengkelannya terhadap aksi demonstrasi yang dinilai tidak realistis.

“Bangun Rumah Saja Butuh Waktu, Apalagi Negara!”

Petani yang mengenakan caping dan berdiri di hamparan sawah itu langsung memberikan komentar telak begitu mendengar rekaman suara mahasiswa yang berteriak lantang.

Revolusi, revolusi ndasmu mlocot kui (Revolusi, revolusi kepalamu melepuh itu). Iki ki wong tani lagi penak-penake Ning jamane pak Prabowo ki, iyo toh (Ini loh orang tani lagi enak-enaknya di zamannya pak Prabowo ini, iya kan).

Biyen loh, wong wegah tani (Dulu loh, orang malas/tidak mau bertani). Saiki petani muda antusiase luar biasa, berbondong-bondong ning lahan (Sekarang petani muda antusiasmenya luar biasa, berbondong-bondong ke lahan). Lah, biyen petani kih isin (Lah, dulu petani itu malu).

Saiki dadi tani Iki kemetak, ngono loh (Sekarang jadi petani itu bangga/bergaya, begitu loh). Gabah esih muda wis di usak-usik (Gabah masih muda kok sudah diusik/diributkan). Iki kih bangun Negoro (Ini tuh membangun negara).

Bangun umah ae perlu waktu 3 sampe 6 bulan, lage dadi (Bangun rumah saja perlu waktu 3 sampai 6 bulan baru jadi). Apa maneh Negoro (Apa lagi negara). Lage setahun ae wis revalusi-revolusi ndasmu kui (Baru setahun saja sudah teriak revolusi-revolusi kepalamu itu). Sabar ngono loh (Sabar begitu loh). Ene wayahe blok-goblok! (Ada waktunya, bodoh!),” ujarnya secara spontan.

Baca Juga: Rupiah Makin Lemah, Petani Getah Karet Makin Senang!

Bagi petani tersebut, indikator keberhasilan sebuah pemerintahan tidak diukur dari riuhnya jargon politik di jalanan, melainkan dari apa yang terjadi di atas lahan: gairah bertani yang kembali hidup, kebanggaan profesi, dan stabilitas harga gabah yang mulai membaik.

Dua Sisi Kebijakan: Sektor Hulu vs Sektor Hilir

Viralnya video ini membuka mata publik mengenai dampak nyata dari arah kebijakan ekonomi pemerintahan saat ini. Pengamat menilai bahwa pemerintahan Prabowo saat ini memang tengah berfokus membenahi sektor hulu terlebih dahulu.

Dampak Positif di Hulu: Petani pangan dan komoditas perkebunan (seperti karet dan sawit) justru merasakan angin segar. Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di satu sisi menguntungkan sektor hulu yang berorientasi pada produksi lokal dan ekspor, karena nilai jual hasil bumi mereka menjadi lebih kompetitif.

Tantangan di Hilir: Di sisi lain, kebijakan ini diakui belum sepenuhnya menyentuh sektor hilir. Masyarakat urban dan industri yang bergantung pada bahan baku impor masih harus menghadapi tekanan inflasi dan penyesuaian ekonomi yang berat.

Kebijakan ekonomi yang menitikberatkan penguatan fondasi produksi di tingkat pertama (produsen/petani) memang membutuhkan waktu transisi agar dampaknya dapat mengalir lancar hingga ke tingkat konsumen di sektor hilir.

Baca Juga: Harga Kentang Naik, Petani Nakal Jual Kentang Oplosan

Sentimen Nasionalisme dan Ketulusan Pemimpin

Di tengah pro-kontra dampak kebijakan tersebut, optimisme sebagian masyarakat terhadap jalannya pemerintahan tetap terjaga. Banyak pihak yang memilih untuk bersabar karena meyakini rekam jejak nasionalisme Prabowo yang tinggi.

Sentimen ini sering kali dikaitkan kembali dengan pernyataan legendaris almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang pernah memuji bahwa Prabowo adalah sosok pemimpin yang paling tulus kepada rakyat Indonesia.

Modal kepercayaan moral inilah yang membuat masyarakat di tingkat akar rumput, seperti petani dalam video viral tersebut, meminta semua pihak untuk memberikan waktu bagi pemerintah dalam mengeksekusi program pembangunan.

Pesan dari pematang sawah ini menjadi pengingat kuat: di saat ruang-ruang diskusi dipenuhi teori perubahan yang instan, masyarakat bawah justru menginginkan stabilitas, proses yang dihargai, dan keberlanjutan yang nyata.(Red)