TanamPanen.com – Di saat pelemahan nilai tukar Rupiah memicu kecemasan massal di sektor manufaktur dan perkotaan, sebuah senyum lebar justru merekah di kedalaman kebun karet.
Bagi para petani, melonjaknya Dolar AS hingga menyentuh angka 17-18 ribu Rupiah bukanlah sebuah ancaman, melainkan fajar menyingsing setelah satu dekade dirundung lara.
“Kami sudah 10 tahun merana. Biar agak lama lah Dolar tuh,” ucap salah seorang petani dengan guratan bahagia yang jujur.
@bongkarsarang Petani karet ini mengaku senang dolar terus naik…
♬ suara asli – Bongkar Sarang
Pernyataan ini adalah potret nyata dari hukum anomali ekonomi. Karet, sebagai komoditas global yang bertumpu pada pasar ekspor, seketika mendapatkan angin segar begitu dikonversi ke mata uang lokal. Ketika sistem makro menjepit sebagian besar sektor, rantai pasok komoditas mentah justru memanen berkah yang tak terduga.
Baca Juga: Harga Kentang Naik, Petani Nakal Jual Kentang Oplosan
Ini bukan sekadar cerita tentang kenaikan harga, melainkan tentang bagaimana roda nasib berputar. Sama halnya seperti berkah melimpah yang sempat dirasakan para distributor pangan di tengah ketatnya pembatasan mobilitas masa pandemi lalu, krisis selalu menyisakan celah bagi mereka yang berada di posisi yang tepat.
Baca Juga: Rusak Parah! Bandar Grosir Brebes Pilih Kembalikan Sawi Putih ke Petani
Di balik setiap guncangan, selalu ada harmoni yang menyeimbangkan. Ketika sebagian pihak dipaksa bertahan, di sudut lain, ada harapan lama yang akhirnya kembali dihidupkan.(Red)
