YOGYAKARTA, TANAMPANEN.COM — Diskusi publik yang menghadirkan Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) Budiman Sudjatmiko di Universitas Gadjah Mada (UGM) berakhir ricuh. Puluhan mahasiswa merangsek masuk dan membubarkan acara sambil meneriakkan penolakan terhadap mantan aktivis 1998 tersebut.
Peristiwa itu terjadi di gedung Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM. Acara yang semula berjalan tenang mendadak tegang saat massa mahasiswa mulai memasuki area forum dengan membawa sejumlah atribut demonstrasi.
Baca Juga: Kritik BEM UI: Ekonomi Tumbuh Di atas Kertas, Rakyat Tercekik Harga Beras dan Pajak
Kronologi Kericuhan
Menurut kesaksian di lokasi, ketegangan memuncak ketika Budiman Sudjatmiko tengah bersiap memberikan paparan bersama sejumlah pejabat lainnya, termasuk Menteri ATR/BPN Nusron Wahid dan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono.
Secara tiba-tiba, sekelompok mahasiswa merangsek naik ke atas panggung utama. Mereka langsung membentangkan spanduk besar bertuliskan kecaman keras, salah satunya berbunyi: “UGM Menolak Pengkhianat Reformasi”.
Baca Juga: Aksi Demo BEM UI Bertajuk: Menuju Indonesia Bangkrut
Aksi tersebut disertai dengan teriakan yel-yel dan tuntutan agar Budiman segera meninggalkan area kampus UGM. Mahasiswa menilai langkah politik Budiman saat ini telah mencederai cita-cita reformasi yang dulu pernah diperjuangkannya sendiri pada tahun 1998.
Alasan Keamanan, Diskusi Dihentikan
Aksi saling dorong sempat terjadi di atas panggung antara mahasiswa, panitia, dan petugas keamanan yang mencoba mengendalikan situasi. Karena suasana semakin tidak kondusif dan eskalasi massa terus meningkat, pihak penyelenggara akhirnya mengambil keputusan tegas.
“Demi alasan keamanan seluruh pihak dan menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, forum diskusi malam ini resmi kami hentikan,” ujar salah satu panitia melalui pengeras suara.
Budiman Sudjatmiko beserta para pejabat lainnya langsung dikawal ketat oleh petugas keamanan keluar dari gedung GIK UGM menuju kendaraan mereka. Meskipun acara dibubarkan secara paksa, massa mahasiswa tetap bertahan di lokasi selama beberapa saat untuk menyuarakan aspirasi mereka sebelum akhirnya membubarkan diri dengan tertib.(Red)
