Rusak Parah! Bandar Grosir Brebes Pilih Kembalikan Sawi Putih ke Petani

Rusak Parah! Bandar Grosir Brebes Pilih Kembalikan Sawi Putih ke Petani

BREBES – Tingginya harga komoditas sayuran di pasaran saat ini tidak melulu membawa angin segar bagi pelaku usaha. Di Pasar Induk Brebes, pasokan sawi putih terpaksa harus dikembalikan massal ke tingkat petani akibat kualitas barang yang dinilai sangat buruk dan tidak layak jual ke tingkat pengecer.

Bandar grosir sayur Pasar Induk Brebes, Mery Dwi Rosfina, mengambil langkah tegas dengan me-reject atau mengembalikan pasokan sawi putih skala karungan yang masuk ke lapaknya. Langkah ini diambil setelah menerima masukan teknis mengenai hancurnya kualitas krop sawi pada kiriman terbaru.

“Iya mas, saya akan kembalikan saja. Tidak akan saya jual. Karena barangnya rusak parah,” ujar Mery saat ditemui di lapak grosirnya, Senin (1/6/2026).

Baca Juga: Faktor Alam dan Produksi Picu Kenaikan Harga Cabai?

Kondisi fisik sawi putih tersebut terpantau tidak membentuk krop (hati sawi) yang padat dan putih seperti biasanya. Sebaliknya, daun bagian luar yang berwarna hijau tua justru mendominasi hingga ke bagian dalam, diperparah dengan kondisi fisik yang longgar, kotor, dan rentan membusuk akibat kadar air yang tinggi.

Dalam kondisi normal, satu karung sawi putih seberat 60 kg biasanya hanya menyisakan sedikit ampas sortir. Namun pada pasokan kali ini, persentase buangan (waste) melonjak drastis hingga 75–80 persen. Satu karung berbobot 60 kg diperkirakan hanya mampu menghasilkan 10 hingga 15 kg sawi bersih yang layak konsumsi.

Baca Juga: Petani Menjerit, Harga Rawit Justru Turun Jelang Idul Adha

Ironisnya, rusaknya kualitas ini terjadi di tengah lonjakan harga modal grosir yang menyentuh angka Rp6.000 per kilogram. Padahal, pada situasi normal dengan kualitas barang yang jauh lebih prima (padat dan putih), harga sawi putih di tingkat karungan biasanya hanya berkisar di angka Rp2.000 hingga Rp3.000 per kilogram.

Keputusan penolakan barang ini terpaksa diambil demi melindungi rantai pelanggan di tingkat eceran. Jika barang berkualitas buruk ini dipaksakan dijual dalam skala karungan kepada pedagang eceran, hal tersebut dipastikan akan memicu gelombang komplain dan merusak kepercayaan konsumen akhir yang enggan membeli sayur mahal bertekstur kasar.

Baca Juga: Cabe Jawa, Rempah Khas Indonesia Berkhasiat Bagi Kesehatan

Akibat kelangkaan barang yang layak jual ini, sejumlah pedagang terpaksa memangkas pemenuhan volume pesanan hingga lebih dari separuh dari total permintaan harian demi menjaga standar kualitas ke pelanggan. (Ren)