LAMPUNG – Ratusan petani cabai di Kabupaten Lampung Tengah, Lampung, mengeluhkan sistem kemitraan yang mereka sebut “penjajahan modern.”
Perusahaan benih raksasa mewajibkan mereka menggunakan paket benih hibrida, pupuk, dan pestisida eksklusif buatan mereka dengan harga yang didikte oleh perusahaan.
Nurhadi (52), Ketua Kelompok Tani “Tani Makmur” di Lampung Tengah, mengungkapkan kekecewaannya.
”Dalam kontrak, kami tidak boleh menggunakan benih lain. Harganya jauh lebih mahal dari pasar. Saat panen, standar mereka sangat tinggi, kalau cabainya sedikit melengkung, tidak mereka beli. Akhirnya, kami harus jual murah di pasar umum, padahal utang kami ke perusahaan untuk modal kemarin masih menumpuk. Bukannya untung, kami malah dikejar-kejar sales untuk bayar utang benih,” keluh Nurhadi.
Perjanjian kemitraan yang diperoleh redaksi menunjukkan klausul yang memberatkan petani, di mana perusahaan berhak menolak hasil panen tanpa transparansi indikator kualitas.(red)
