Suhu di Perancis Tembus 44°C, Rekor Terpanas, Puluhan Orang Meninggal

Suhu di Perancis Tembus 44°C, Rekor Terpanas, Puluhan Orang Meninggal

PARIS, TANAMPANEN.COM — Gelombang panas ekstrem yang melanda wilayah Eropa Barat kian memburuk. Otoritas meteorologi Prancis resmi melaporkan bahwa suhu udara di beberapa wilayah telah menembus angka kritis 44°C pada pekan ini, memecahkan rekor suhu terpanas sepanjang sejarah negara tersebut. Dampak dari sengatan panas yang luar biasa ini dilaporkan telah merenggut puluhan korban jiwa di berbagai kota.

Lembaga Klimatologi Prancis, Météo-France, mengonfirmasi bahwa kota Chantonnay di wilayah barat mencatatkan suhu tertinggi mencapai 44,6°C. Sementara itu, ibu kota Paris dan kota-kota besar lainnya seperti Bordeaux serta Nantes terus dikepung suhu di atas 40°C selama beberapa hari berturut-turut. Fenomena kubah panas (heat dome) yang kuat ini menjebak udara panas di atas daratan dan memicu kondisi darurat nasional.

Hingga hari ini, Sabtu (27/6/2026), Kementerian Kesehatan Prancis telah mengonfirmasi setidaknya 40 korban meninggal dunia secara langsung maupun tidak langsung akibat gelombang panas ini. Pihak kepolisian melaporkan peningkatan drastis kasus henti jantung mendadak, terutama pada kelompok lansia dan pekerja lapangan. Selain itu, belasan kasus fatal akibat tenggelam juga dilaporkan karena banyak warga yang nekat berenang di area perairan terlarang demi mendinginkan tubuh.

Baca Juga: Warga Muslim Mongolia Jalani Shalat di Tengah Tumpukan Salju

Pemerintah Prancis langsung memberlakukan status siaga tertinggi atau ‘Siaga Merah’ (Vigilance Rouge) di lebih dari 70 departemen. Untuk meminimalisasi risiko, otoritas setempat telah menutup ratusan sekolah, membatasi operasional transportasi publik, serta melarang penjualan dan konsumsi alkohol di ruang terbuka. Beberapa reaktor nuklir di sepanjang sungai juga terpaksa dikurangi kapasitas produksinya demi mencegah pemanasan berlebih pada air pendingin reaktor.

Baca Juga: Nonton Teater di Jepang, Seperti Masuk Dunia Lain?

Para ahli iklim memperingatkan bahwa frekuensi dan intensitas gelombang panas ekstrem seperti ini akan terus meningkat di masa mendatang akibat perubahan iklim global. Masyarakat diimbau untuk tetap berada di dalam ruangan yang sejuk, membatasi aktivitas fisik di siang hari, serta memastikan kecukupan hidrasi guna menghindari risiko heatstroke yang mematikan.(Red)