JAKARTA, TANAMPANEN.COM – Pasar keuangan domestik belakangan ini dihangatkan oleh perang narasi yang cukup sengit. Gaung rekomendasi “Sell Indonesia” yang gencar diembuskan oleh sejumlah lembaga keuangan dan manajer investasi yang berbasis di Singapura memicu reaksi keras dari dalam negeri.
Alih-alih dipandang sebagai analisis teknis yang objektif, publik dan pelaku pasar domestik justru menangkap adanya motif persaingan bisnis yang tidak sehat di balik sentimen negatif tersebut.
Analis menduga, masifnya amplifikasi narasi “Sell Indonesia” bukan sekadar respons terhadap dinamika makroekonomi, melainkan ada upaya terstruktur untuk menjatuhkan kredibilitas ekonomi Indonesia demi mengamankan kepentingan sepihak.
Self-Fulfilling Prophecy: Menjatuhkan Lewat Opini
Dalam psikologi pasar modal, sentimen adalah komoditas yang sangat kuat. Jika sebuah narasi negatif ditiupkan secara terus-menerus oleh pusat keuangan regional sekelas Singapura, hal itu dapat menciptakan efek domino yang disebut self-fulfilling prophecy (ramalan yang mewujudkan dirinya sendiri).
Baca Juga: Ekonomi Singapura Melemah, Netizen Beri Saran Jual Negara via Tagar #SellSingapore
Dengan terus mendengungkan bahwa aset Indonesia tidak lagi menarik, investor global yang kurang berpengalaman akan terpancing untuk melakukan aksi jual massal (panic selling). Akibatnya, modal asing keluar (capital outflow), Rupiah tertekan, dan IHSG melemah. Ketika pasar Indonesia goyah, dana-dana tersebut biasanya akan mencari tempat parkir yang aman (safe haven)—dan Singapura adalah penampung utama aliran modal tersebut.
Benturan Kepentingan Hilirisasi dan Devis Hasil Ekspor (DHE)
Ketidaknyamanan para pemain modal di Singapura disinyalir memuncak sejak Indonesia mempertegas kedaulatan ekonominya. Langkah berani Jakarta yang memperketat aturan Devis Hasil Ekspor (DHE)—yang mewajibkan para eksportir memarkir uangnya di bank domestik—jelas memukul likuiditas perbankan di Singapura yang selama ini menikmati triliunan rupiah uang dari Indonesia.
Ditambah lagi dengan kebijakan hilirisasi komoditas yang gencar dilakukan Indonesia. Dengan mengolah bahan mentah di dalam negeri, Indonesia pelan-pelan memotong rantai pasok yang selama ini menempatkan Singapura sebagai perantara (entrepot) perdagangan. Sentimen negatif di bursa saham disinyalir menjadi salah satu instrumen tekanan balik agar Indonesia melonggarkan kebijakan-kebijakan proteksionis tersebut.
Baca Juga: Warga Singapura Menjerit, Ekonomi Makin Sulit
Reaksi Publik: Perlawanan Nasionalisme Ekonomi
Masyarakat dan netizen Indonesia tidak tinggal diam melihat negaranya didiskreditkan melalui panggung bursa saham. Aksi balasan pun lahir di media sosial secara masif. Tagar tandingan seperti #SellSingapore mencuat sebagai bentuk protes dan respons spontan atas ketidakadilan narasi tersebut.
Bagi publik, persaingan dalam dunia bisnis dan investasi adalah hal yang wajar, namun harus dilakukan dengan cara-cara yang sportif dan elegan, bukan dengan menggiring opini untuk merusak kredibilitas sebuah negara. Gerakan tandingan ini menjadi sinyal tegas kepada para spekulan asing bahwa pasar domestik Indonesia memiliki basis pertahanan yang solid dan tidak mudah digoyang oleh kepanikan buatan.
Pada akhirnya, perang urat syaraf di sektor finansial ini menjadi alarm bagi Indonesia untuk terus memperkuat fundamental ekonomi di sektor riil. Cara paling elegan untuk membungkam motif-motif terselubung di balik sentimen negatif tersebut adalah dengan membuktikan bahwa daya beli masyarakat tetap terjaga, hilirisasi berjalan sukses, dan ekonomi nasional tetap tegak berdiri meski dihantam badai opini dari luar.(Red)
