TanamPanen.com – Seringkali kita bertanya-tanya, mengapa penetapan Idul Adha bisa serentak, sementara Idul Fitri kerap diwarnai perbedaan? Fenomena ini bukan sekadar ketidaksengajaan, melainkan hasil dari cara kita membaca posisi hilal (bulan baru) di langit.
Akar Masalah: Metode yang Berbeda
Perbedaan ini berhulu pada dua metode utama yang digunakan organisasi keagamaan di Indonesia:
* Wujudul Hilal: Metode yang menganggap bulan baru telah masuk asalkan posisi bulan sudah berada di atas ufuk pada saat matahari terbenam.
* Imkanur Rukyat (MABIMS): Metode yang lebih ketat, di mana bulan baru hanya dianggap masuk jika ketinggian hilal telah mencapai parameter tertentu (ketinggian minimal dan sudut elongasi) agar secara teknis “mungkin” terlihat.
Baca Juga:
- Waspadai! Demi Mengejar Viral, Banyak Info Kesehatan Hanya Karangan
- Toleransi Adalah Sikap, Bukan Debat
Mengapa Idul Fitri Sering Berbeda?
Pada penentuan 1 Syawal, posisi hilal sering berada di titik kritis atau sangat rendah di ufuk. Di posisi inilah perbedaan metode menjadi krusial. Kelompok Wujudul Hilal mungkin sudah menyatakan masuk bulan baru karena bulan berada di atas ufuk, sementara kelompok Imkanur Rukyat menyatakan belum masuk karena hilal belum mencapai ketinggian syarat minimal. Akibatnya, ada pihak yang berlebaran lebih awal dan ada yang menggenapkan puasa menjadi 30 hari.
Mengapa Idul Adha Bisa Kompak?
Berbeda dengan 1 Syawal, pada saat penentuan 1 Zulhijah hingga 10 Zulhijah, posisi hilal biasanya jauh lebih tinggi dan aman. Karena posisinya sudah jauh di atas ambang batas semua kriteria, baik metode yang paling longgar maupun yang paling ketat, semua pihak akhirnya sepakat bahwa bulan baru telah masuk.
Ketika garis start 1 Zulhijah sudah disepakati di hari yang sama, maka otomatis hari ke-10 (Idul Adha) akan jatuh pada tanggal Masehi yang sama pula.
Catatan Penting
Dalam kalender Hijriah, satu bulan selalu berdurasi 29 atau 30 hari, mengikuti siklus bulan. Perbedaan waktu perayaan bukanlah soal perbedaan kalender Hijriahnya, melainkan perbedaan kapan waktu tersebut tiba dalam kalender Masehi karena perbedaan interpretasi posisi hilal.
Jadi, kekompakan Idul Adha tahun ini adalah bukti bahwa ketika fenomena astronomis terlihat jelas bagi semua pihak, perbedaan metode pun tidak lagi menjadi penghalang.(Ren)
