TanamPanen.com – Di ruang sidang Mahkamah Agung, ia adalah simbol keadilan. Mengenakan jubah kebesaran dan peci hitam, pembawaannya yang tenang, formal, dan berwibawa selalu memancarkan kesan bersahaja seorang penjaga hukum tertinggi negara.
Di balik raut wajah yang tampak polos itu, tersimpan rekam jejak akademis dan karier cemerlang yang membawanya hingga ke kursi Hakim Agung pada Kamar Pidana sejak 2017.
Baca Juga: Kejagung Tetapkan Dadan Hindayana Tersangka Kasus Korupsi
Namun, kewibawaan itu runtuh seketika saat namanya terseret ke dalam pusaran skandal korupsi yang mengguncang jagat peradilan.
Lembaga yang seharusnya menjadi benteng terakhir pencari keadilan justru menjadi panggung transaksional. Gazalba terjerat dalam jaringan suap pengurusan perkara kasasi di lingkungan Mahkamah Agung pada akhir 2022.
Baca Juga: Bedah Kasus: Motif Badut Pembunuh Istri dan Mertua di Mojokerto
Tak berhenti di situ, penyelidikan mendalam mengungkap sisi lain yang lebih mengejutkan: dugaan gratifikasi dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Hasil dari tindakan “mematikan” tersebut disamarkan ke dalam deretan aset mewah, mulai dari kendaraan hingga properti bernilai fantastis.
Kini, kontras kehidupan sang mantan hakim agung terpampang nyata. Sosok yang dahulu memutus nasib hukum seseorang, kini harus melihat aset-aset hasil pencucian uangnya—termasuk rumah mewahnya—disita oleh negara dan siap dilelang.
Sebuah ironi besar di mana sang pengadil berakhir menjadi terdakwa, tergilas oleh hukum yang dahulu ia pimpin atas nama keadilan.(Red)
