China Unicom dan Huawei Luncurkan Layanan 10G dengan Kecepatan Unduh Milidetik

China Unicom dan Huawei Luncurkan Layanan 10G dengan Kecepatan Unduh Milidetik

JAKARTA, TANAMPANEN.COM – Video yang mengklaim China baru saja meluncurkan “internet 10G” ramai beredar di media sosial. Narasi yang menyertainya bahkan menyebut Indonesia tertinggal jauh karena baru mengembangkan jaringan 5G.

Setelah ditelusuri, klaim tersebut perlu diluruskan. China memang telah meluncurkan layanan internet broadband 10 Gigabit per detik (10 Gbps) melalui kerja sama China Unicom dan Huawei di sejumlah wilayah percontohan, termasuk Xiong’an, Provinsi Hebei.

Layanan tersebut menggunakan teknologi 50G Passive Optical Network (50G-PON), yakni jaringan fiber optik yang terhubung langsung ke rumah atau gedung (Fiber to the Home/FTTH).

Dalam uji coba, kecepatan unduhnya mencapai sekitar 9,8 Gbps dengan latensi sekitar 3 milidetik.

Baca Juga: Proses Panjang Sinyal Internet Hidupkan Mesin Mobil Dalam Hitungan Detik

Namun, istilah 10G yang digunakan bukan berarti generasi kesepuluh jaringan seluler atau penerus 5G.

Angka 10G merujuk pada kecepatan internet hingga 10 Gigabit per detik, bukan generasi teknologi seluler seperti 3G, 4G, atau 5G. Dengan kata lain, layanan yang diluncurkan China merupakan internet fiber optik, sedangkan 5G adalah jaringan seluler untuk perangkat bergerak.

Karena itu, membandingkan layanan 10G China dengan 5G Indonesia tidaklah tepat. Keduanya merupakan teknologi yang berbeda dan memiliki fungsi yang berbeda pula.

Baca Juga: Internet Rakyat: Gratis 3 Bulan Pertama, Bonus Akses Piala Dunia

Jika ingin dibandingkan secara setara, layanan 10 Gbps di China seharusnya dibandingkan dengan layanan internet fiber optik di Indonesia, bukan dengan jaringan seluler 5G.

Informasi bahwa China telah meluncurkan layanan internet berkecepatan 10 Gbps adalah benar. Namun, narasi yang menyebut China telah memasuki era “10G” sebagai penerus 5G sehingga Indonesia dianggap tertinggal adalah keliru karena membandingkan dua teknologi yang berbeda.

Dengan memahami konteks ini, masyarakat diharapkan tidak mudah terpengaruh oleh narasi di media sosial yang tidak menjelaskan perbedaan antara internet fiber optik dan jaringan seluler.(Red)