Shanghai – CEO Honda, Toshihiro Mibe melontarkan kalimat mengejutkan usai dirinya berkunjung ke pabrik suku cadang di Shanghai, China.
“Kita tidak punya kesempatan melawan China,” ungkapnya.
Kalimat itu terlontar Mibe lantaran dirinya kagum dengan perkembangan teknologi China yang dinilai begitu cepat.
Disana, hampir semuanya dikerjakan secara otomatis, dari pengadaan barang sampai logistik dikerjakan robot AI.
Yang membuat Honda terkejut bukan hanya teknologinya, tapi soal kecepatannya. China sangat cepat bergerak di industri mobil listrik, software dan produksi massal.
Honda saat ini tengah terpukul dengan menurunkan nilai asset hingga mencapai 2,5 triliun Yen atau sekitar Rp. 266,9 triliun.
Baca Juga: Oppo Resmi Rilis Oppo Find X9 Ultra, Ponsel Kasta Tertinggi
Kekhawatiran Mibe bukan sekadar soal mesin, melainkan soal model bisnis. Jika dulu Honda unggul dalam presisi mesin pembakaran internal (ICE), kini China unggul dalam EV Ecosystem.
Jepang terancam bernasib sama seperti industri kamera film saat digital datang: terlalu lama berpegang pada kejayaan masa lalu sementara efisiensi robotik China sudah melompat jauh ke depan.
Kunjungan ke Shanghai itu mengungkap bahwa China tidak lagi mengandalkan tenaga kerja murah, melainkan integrasi vertikal.
Logistik Robotik: Pengurangan biaya operasional secara drastis melalui sistem gudang tanpa manusia.
Kecepatan R&D: Di China, siklus pengembangan mobil listrik hanya memakan waktu 1,5 hingga 2 tahun, sementara produsen Jepang biasanya butuh 4 hingga 5 tahun.
Angka kerugian Rp266,9 triliun bukan sekadar angka di atas kertas. Ini mencerminkan:
Baca Juga: Sony Kukuhkan Tahta, Rilis Xperia 1 VIII Lawan Dominasi Oppo Find X9 Ultra
– Penurunan Nilai Jual Kembali: Mobil ICE mulai kehilangan daya tarik di pasar global terbesar (China).
– Beban Warisan (Legacy Costs): Honda harus membiayai transisi besar-besaran sambil tetap menghidupi pabrik-pabrik lama yang sudah tidak efisien secara teknologi.
Pernyataan Mibe ini kemungkinan besar adalah alarm untuk mempercepat proyek “Honda 0 Series”—lini mobil listrik terbaru mereka.
Tanpa kolaborasi dengan raksasa teknologi (seperti kerja sama mereka dengan Sony), Honda sadar mereka tidak akan bisa mengejar ketertinggalan perangkat lunak dan ekosistem digital yang sudah dikuasai merek China seperti BYD atau Xiaomi.(red)
