Transaksi Non-Dolar BI Tembus Rp575,72 Triliun: Rupiah Bakal Jadi Raja di Asia?

Transaksi Non-Dolar BI Tembus Rp575,72 Triliun: Rupiah Bakal Jadi Raja di Asia?

JAKARTA, TANAMPANEN.COM – Langkah berani Bank Indonesia (BI) dalam mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS (dedolarisasi) lewat skema Local Currency Transaction (LCT) menunjukkan hasil yang sangat masif. Hanya dalam kurun waktu lima bulan (hingga Mei 2026), nilai transaksi perdagangan internasional Indonesia dengan enam negara mitra tanpa menyentuh dolar AS sukses menembus angka fantastis, yakni Rp575,72 triliun.

Pencapaian kilat ini terbilang luar biasa karena total nilai transaksi selama lima bulan tersebut sudah melampaui akumulasi total transaksi satu tahun penuh pada tahun 2024 maupun 2025 lalu. Fenomena ini pun memicu optimisme besar: Apakah Rupiah siap menjadi raja baru dalam transaksi di Asia?

Saat ini, sudah ada enam negara mitra utama yang aktif meninggalkan dolar bersama Indonesia, yaitu China, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab (UEA). Dari keenam negara tersebut, China dan Jepang tercatat sebagai mitra yang paling rajin memanfaatkan skema ini.

Baca Juga: Benarkah Rupiah Jadi Mata Uang Terendah Se-Asia?

80 Ribu Pelaku Usaha Amankan Posisi Rupiah

Dampak nyata dari melejitnya angka transaksi ini langsung dirasakan oleh sektor riil. Tercatat, sudah ada sekitar 80 ribu pelaku usaha di Indonesia yang beralih menggunakan sistem LCT.

Dengan menggunakan mata uang lokal masing-masing negara dalam ekspor-impor, para pelaku usaha dapat memangkas biaya konversi ganda (double conversion). Efek dominonya, efisiensi usaha meningkat dan ekonomi domestik kian mandiri. Indonesia tidak lagi gampang goyang ketika nilai dolar AS naik-turun tidak menentu.

Baca Juga: Rupiah Akhirnya Menguat, BI: Terimakasih Pak Purbaya

Menuju ‘Raja’ Asia: India Mulai Mengantre

Keberhasilan Indonesia dalam mengomandoi skema LCT ini mulai menarik perhatian kekuatan ekonomi besar lainnya. Negara raksasa Asia, India, dikabarkan sudah mulai mengantre dan bersiap menjalin kerja sama serupa dengan Bank Indonesia.

Meskipun perjalanan Rupiah untuk mendominasi total Asia masih menantang—mengingat kuatnya posisi Yuan (China) dan Yen (Jepang) di pasar global—langkah taktis BI ini telah berhasil meletakkan fondasi yang sangat kokoh.

Rupiah mungkin belum menjadi raja tunggal di Asia, namun mata uang Garuda kini jelas telah menjadi “Raja yang Mandiri” di kawasan regional dan kian disegani oleh negara-negara mitra strategis.(Red)