Viral Penggunaan Paracetamol untuk Tanaman Cabai, Pakar Ingatkan Risiko Gagal Panen dan Bahaya Residu

Viral Penggunaan Paracetamol untuk Tanaman Cabai, Pakar Ingatkan Risiko Gagal Panen dan Bahaya Residu

JAKARTA, TANAMPANEN.COM – Belakangan ini media sosial diramaikan oleh aksi kreatif sekaligus nekat sejumlah petani hortikultura. Sebuah video memperlihatkan tren menyemprotkan larutan paracetamol (obat penurun demam manusia) yang dicampur vitamin B kompleks ke tanaman cabai.

Metode ini diklaim mampu membuat tanaman lebih segar dan tahan terhadap stres lingkungan.

Namun, alih-alih menjadi solusi ajaib, Kementerian Pertanian (Kementan) bersama para pakar kesehatan dan agronomis langsung memberikan klarifikasi tegas.

Mereka menyatakan bahwa paracetamol bukanlah pestisida maupun pupuk, dan penggunaannya pada komoditas pangan sangat tidak direkomendasikan.

Desperasi Petani di Tengah Lonjakan Biaya

Menanggapi fenomena tersebut, praktisi agronomis dari NutaniMan mengungkapkan bahwa tren ini sebenarnya merupakan sinyal kuat adanya desperasi di tingkat petani.

“Cabai adalah komoditas dengan nilai tinggi sekaligus risiko tinggi (high-value, high-risk). Di tengah tekanan cuaca ekstrem, serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) seperti antraknosa dan layu fusarium sering datang bersamaan. Ketika harga pestisida resmi melonjak, petani akhirnya mencari ‘solusi warung’ yang murah,” ujarnya dalam sebuah ulasan di platform media sosial.

Baca Juga: Faktor Alam dan Produksi Picu Kenaikan Harga Cabai?

Bahaya Nyata di Balik Efek Semu

Meski beberapa petani mengeklaim hasil awal tanaman terlihat lebih segar, para ahli mengingatkan bahwa itu hanyalah efek plasebo atau dampak nutrisi sementara dari vitamin B. Secara ilmiah, penggunaan paracetamol pada tanaman justru menyimpan risiko besar:

•✓Risiko Residu pada Buah: Tanaman memiliki kemampuan menyerap senyawa aktif (uptake) melalui akar dan daun. Paracetamol yang terserap berpotensi meninggalkan residu beracun pada buah cabai yang nantinya dikonsumsi masyarakat.

Kerusakan Ekosistem Lahan: Senyawa kimia obat manusia ini dapat mengganggu keseimbangan mikroba baik di dalam tanah dan merusak kesehatan lahan jangka panjang.

Serangan Balasan yang Lebih Parah: Dari pantauan di lapangan, lahan yang menggunakan produk viral ini justru mengalami serangan hama dan penyakit yang jauh lebih parah pada siklus berikutnya, hingga memicu gagal panen total.

Baca Juga: Cara Perawatan Cabai Keriting Agar Hasilnya Lebat dan Berkualitas

Kementan melalui akun resmi @pspkementan juga telah menegaskan bahwa paracetamol tidak terdaftar sebagai bahan aktif pertanian, sehingga legalitas dan keamanannya tidak terjamin.

Rekomendasi Solusi Berbasis Sains

Daripada mengikuti tren viral yang merusak, agronomis menyarankan petani untuk kembali pada kaidah sains lapangan dan Pengendalian Hama Terpadu (PHT):

1. Penguatan Imun Tanaman: Menggunakan produk biostimulan berbasis phosphite yang terbukti ilmiah mengaktifkan sistem imun alami tanaman dari serangan jamur.

2. Nutrisi Dinding Sel: Memaksimalkan aplikasi pupuk Kalsium (Ca) dan Kalium (K) untuk memperkuat dinding sel tanaman agar tidak mudah ditembus hama.

3. Sanitasi dan Sanitasi Lahan: Rutin membuang sisa tanaman yang sakit dan menjaga kelembapan tanah agar tidak memicu perkembangan jamur patogen.

“Hasil panen yang sehat dan aman bukan hanya soal keuntungan hari ini, tetapi tentang keberlanjutan usaha tani esok hari. Jangan ikut viral, ikuti sains lapangan,” pungkasnya.(Red)