Meski Harga Kol dan Daun Bawang Turun Rp 500 Perkilo, Pasar Belum Ada Respon

Meski Harga Kol dan Daun Bawang Turun Rp 500 Perkilo, Pasar Belum Ada Respon

BREBES — Kondisi pasar sayur-mayur di tingkat hulu hingga hilir tengah menghadapi tantangan berat akibat melemahnya daya beli masyarakat. Meski para pelaku usaha dan distributor telah mengambil langkah cepat dengan menurunkan margin keuntungan, pergerakan transaksi di pasar terpantau masih sangat lambat.

Di tingkat hulu, harga komoditas sayur khususnya kol dan daun bawang mengalami penurunan sebesar Rp500 per kilogram. Penurunan ini sengaja dilakukan sebagai respons spontan dari para pelaku distribusi untuk memicu gairah pasar dan menjaga agar perputaran barang tidak mandek.

“Hari ini, harganya (Kol dan Daun Bawang) turun Rp 500 perkilo,” ujar Mery, salah satu pedagang grosir di Brebes, Senin (15/6/2026).

Baca Juga: Komoditas Sayuran Pegunungan: Setelah Wortel dan Daun Bawang, Kol juga Bakal Naik

Namun, strategi pemangkasan harga tersebut rupanya belum membuahkan hasil yang signifikan. Di lapangan, para pedagang eceran maupun bandar mengeluhkan kondisi pasar yang sepi pembeli.

Daya beli masyarakat yang sedang mengetatkan ikat pinggang membuat volume serapan pasar menurun drastis, sehingga penurunan harga ratusan perak di tingkat hulu belum direspons positif oleh konsumen di tingkat akhir.

Fenomena ini menjadi potret nyata bahwa persoalan saat ini bukan lagi sekadar naik-turunnya harga pasokan, melainkan kapasitas beli masyarakat yang memang sedang mengalami tekanan di tengah situasi ekonomi yang sulit.

Baca Juga: Kol Naik, Penjual Eceran Makin Kesulitan?

Jika kondisi ini terus bertahan, para pelaku usaha di rantau distribusi hulu terpaksa harus lebih memutar otak agar stok sayur segar dari petani tetap bisa tersalurkan tanpa harus menanggung kerugian yang lebih besar.(Red)