BREBES, TanamPanen.com – Lonjakan harga komoditas sayuran di pasaran kerap kali dimanfaatkan oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab untuk meraup keuntungan instan. Salah satu praktik curang yang kini tengah meresahkan para pelaku usaha dan pedagang adalah maraknya peredaran “Kentang Oplosan” dengan modus manipulasi pengemasan dalam karung.
Praktik ini dilakukan dengan teknik penataan yang sangat rapi dan sistematis. Oknum petani atau supplier nakal sengaja memoles tampilan luar karung dengan menyusun kentang-kentang berukuran besar (grade super) di bagian atas dan samping.
Namun, begitu karung dibongkar, bagian tengah hingga dasar karung justru dipadati oleh kentang berukuran kecil yang jauh dari standar harga yang dibayarkan.
Modus “Karung Kamuflase” di Lapangan
Salah satu pelaku usaha yang enggan disebutkan namanya membagikan pengalaman pahitnya baru-baru ini. Ia mengaku terjebak oleh rapinya permainan visual para oknum ini saat membeli kentang dalam jumlah besar.
“Penataannya sangat sempurna. Dari luar kelihatan besar-besar semua, makanya berani bayar harga mahal sesuai tarif pasar saat ini. Tapi begitu dibongkar, isinya zonk. Yang besar cuma kamuflase di pinggiran karung, dalamnya ternyata kecil-kecil semua,” ujar pedagang di Pasar Grosir Brebes, Minggu (7/6/2026) sembari menunjukkan bukti fisik tumpukan kentang yang tidak seragam tersebut.
Berdasarkan bukti dokumentasi lapangan (Foto) terlihat jelas kontrasnya ukuran komoditas yang diterima. Di antara sedikit kentang berukuran besar, terselip dominasi kentang berukuran kecil yang seharusnya masuk ke dalam kategori grade rendah atau bahkan ukuran kelereng.
Baca Juga: Cara Panen Kentang Agar Tidak Busuk dan Manfaatkan Untuk Pupuk Pertanian
Merusak Kepercayaan Pasar
Praktik poles-mengoles karung ini jelas merupakan langkah mundur bagi integritas rantai pasok pertanian lokal. Di saat harga kentang sedang tinggi, tindakan spekulatif seperti ini tidak hanya merugikan pembeli secara finansial, tetapi juga merusak hubungan saling percaya (*trust*) antara petani produsen dan pelaku distribusi di hilir.
Jika dibiarkan tanpa adanya sanksi sosial atau pengetatan pengawasan (*Quality Control*) dari asosiasi pedagang, tren negatif ini dikhawatirkan akan membuat para pelaku usaha berpaling mencari pasokan yang lebih konsisten dan jujur, atau bahkan beralih ke komoditas impor yang memiliki standarisasi lebih ketat.
Baca Juga: Tomat Permata Jadi Primadona Pembeli di Pasar Sayur
Para pelaku usaha diimbau untuk tidak lagi menerapkan sistem “beli kucing dalam karung”. Mulai saat ini, pembongkaran sampel karung secara acak (*random sampling*) langsung di lokasi transaksi menjadi prosedur wajib demi menghindari jebakan kentang oplosan ini.(Red)
