TanamPanen.com – Selama ini, kita sering melabeli orang yang suka memamerkan harta, pencapaian, atau kemewahan hidup di media sosial sebagai sosok yang egois, haus pujian, dan gila validasi.
Namun, jika kita bersedia melihat lebih dalam ke balik layar, pamer kronis sebenarnya bukanlah sebuah aksi kesombongan yang gagah. Sebaliknya, itu adalah jeritan sunyi dari jiwa yang sedang rapuh.
Pamer, pada hakikatnya, adalah efek dari diri yang kehilangan pondasi.
Ketika seseorang hidup tanpa jangkar spiritual dan arah hidup yang jelas, mereka akan mudah terombang-ambing oleh standar duniawi.
Saat tekanan mental, kritik, atau rasa minder datang menyerang, ego manusia secara alami akan mencari mekanisme pertahanan diri. Di sinilah pamer mengambil peran.
Baca Juga: Haji: Puncak Penghambaan, Bukan Sekadar Gelar di Depan Nama
Pamer menjadi jalan pintas untuk melindungi diri dari kerapuhan.
Ia bertindak seperti topeng megah yang sengaja dibangun agar orang lain tidak bisa melihat betapa rapuh dan kosongnya fondasi di dalam diri mereka.
Lewat tumpukan materi atau pencapaian yang dipamerkan, mereka seolah ingin berteriak kepada dunia—dan kepada diri mereka sendiri—bahwa mereka berharga. Padahal, itu hanyalah obat pereda nyeri instan yang tidak pernah menyembuhkan rasa hampa di dalam dada.
Oleh karena itu, kita harus memahami bahwa pamer bukan sekadar masalah perilaku, melainkan penyakit hati.
Sebagai sebuah penyakit, ia tidak akan bisa sembuh hanya dengan menambah koleksi barang mewah atau mengumpulkan jutaan likes. Penyakit hati ini hanya memiliki satu obat penawar yang pasti: yaitu kembali pada kedalaman ajaran agama dan penguatan keimanan.
Baca Juga: Firdaus, Jamaah Haji yang Hilang Selama Sepekan Ditemukan Meninggal Dunia
Hanya iman yang kuat yang mampu memberikan rasa aman sejati, membuat hati menjadi tenang, dan membebaskan manusia dari ketergantungan akan pandangan manusia. Ketika pondasi batin itu sudah kokoh, dunia seisinya tidak akan lagi mampu mendikte harga diri kita.
