Mada’in Saleh: Meluruskan Kekeliruan Narasi Kaum ‘Ad dan Manusia Raksasa

Mada’in Saleh: Meluruskan Kekeliruan Narasi Kaum ‘Ad dan Manusia Raksasa

Oleh: Biren Muhammad

Belakangan ini, jagat media sosial kerap diramaikan oleh video-video pendek yang mengeksploitasi situs-situs purbakala demi mendulang penonton. Salah satu yang paling sering muncul adalah narasi yang mengeklaim bahwa situs Mada’in Saleh di Arab Saudi merupakan bukti fisik bahwa manusia zaman dahulu berukuran raksasa, yang diidentifikasi sebagai Kaum ‘Ad.

Narasi-narasi semacam ini biasanya bermodal cuplikan bangunan megah yang dipahat di tebing batu raksasa, lalu dibumbui dengan teori kecocokan (cocoklogi) tanpa dasar literatur yang valid. Demi meluruskan disinformasi tersebut, penting bagi kita untuk melihat kembali batasan geografis, sejarah, dan teks dalil yang otoritatif.

Baca Juga: Raksasa Teknologi Dunia: Sejarah Berdirinya Google Sang Pionir Android

Salah Sasaran: Mada’in Saleh adalah Warisan Kaum Tsamud

Kekeliruan paling fatal dari narasi yang beredar adalah mencampuradukkan antara Kaum ‘Ad dan Kaum Tsamud.

Secara historis dan geografis, Kaum ‘Ad—kaum yang diutus kepada mereka Nabi Hud AS—hidup di wilayah bernama Al-Ahqaf. Wilayah ini terletak di bagian selatan Jazirah Arab, tepatnya di kawasan berpasir antara Yaman dan Oman.

Sementara itu, Mada’in Saleh (yang dahulu dikenal sebagai Hegra atau Al-Hijr) terletak di wilayah Al-Ula, bagian utara Arab Saudi. Situs ini merupakan tempat tinggal Kaum Tsamud, umat Nabi Saleh AS yang memang dianugerahi keahlian luar biasa dalam memahat gunung batu menjadi pemukiman.
Fakta ini ditegaskan dalam Al-Qur’an, Surah Al-A’raf ayat 74:

“…dan ingatlah ketika Allah menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum ‘Ad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah…”

Ayat ini dengan sangat jelas memisahkan kedua peradaban tersebut: Kaum Tsamud adalah generasi setelah Kaum ‘Ad, dan merekalah yang memahat gunung-gunung batu, termasuk yang jejaknya kita lihat di Mada’in Saleh hari ini.

Baca Juga: Kuda Pegasus dan Singa Venezia, Mitos Hewan Bersayap Mitologi Kuno!

Mitos Manusia Raksasa dan Skala Arsitektur

Lantas, mengapa muncul klaim bahwa mereka adalah manusia raksasa? Alasan utamanya adalah bias visual. Pintu-pintu dan pilar bangunan di Mada’in Saleh memang memiliki ukuran yang teramat besar dan tinggi jika dibandingkan dengan ukuran tubuh manusia modern.

Namun, dalam ilmu arkeologi dan arsitektur, ukuran pintu yang masif pada bangunan publik, kuil, atau makam kuno bukanlah indikator bahwa tinggi penghuninya menyamai tinggi pintu tersebut. Bangunan dipahat besar demi menunjukkan status sosial, keagungan, serta kekuatan peradaban mereka pada zamannya.

Setelah runtuhnya Kaum Tsamud akibat azab, wilayah Al-Hijr ini kemudian dihuni dan dikembangkan oleh bangsa Nabatean (abad ke-1 Masehi), yang memperhalus pahatan-pahatan batu tersebut sebagai kompleks pemakaman bangsawan. Ukuran tulang-belulang yang ditemukan di situs-situs pemakaman Nabatean di sana pun menunjukkan ukuran manusia yang normal, tidak berbeda jauh dengan manusia hari ini.

Baca Juga: Mitos Bulan Apit: Benarkah Ekonomi Terjepit?

Kesimpulan

Menjadikan Mada’in Saleh sebagai komoditas konten dengan narasi “bukti manusia raksasa Kaum ‘Ad” adalah sebuah kecerobohan literasi. Tempat tersebut bukanlah representasi Kaum ‘Ad, melainkan saksi bisu dari kejayaan sekaligus kehancuran Kaum Tsamud yang ingkar kepada utusan-Nya.

Sebagai pembaca maupun penulis, sudah sepatutnya kita lebih jeli dalam memilah informasi. Menikmati kemegahan sejarah masa lalu haruslah dibarengi dengan akurasi fakta, bukan sekadar ikut larut dalam narasi bombastis yang mendistorsi sejarah demi popularitas digital.