Sholah Athiyyah, Pengusaha Sukses Berbisnis dengan Tuhan dan Jadi Karyawan-Nya

Sholah Athiyyah, Pengusaha Sukses Berbisnis dengan Tuhan dan Jadi Karyawan-Nya

TanamPanen.com – Pernahkah Anda membayangkan sebuah bisnis yang tidak pernah mengenal kata rugi? Di dunia modern yang serba terukur secara matematis, kisah insinyur pertanian asal Mesir bernama Sholah Athiyyah mendobrak semua teori ekonomi konvensional.

Beliau membuktikan bahwa kemitraan paling menguntungkan di dunia ini adalah ketika seorang hamba berani “berbisnis” dengan Sang Pencipta.

Baca Juga: Jauhi Trading, Pilih Bisnis Aman Demi Keberkahan Keluarga!

Langkah Nekat Sembilan Pemuda Miskin

Kisah ini dimulai pada akhir tahun 1980-an di Tafahnah Al-Asyraf, sebuah desa kecil yang didera kemiskinan di wilayah Mit Ghamr, Mesir. Sembilan pemuda lulusan sarjana pertanian—termasuk Sholah Athiyyah—bertekad mengubah nasib dengan mendirikan bisnis peternakan unggas.

Modal mereka sangat cekak. Untuk menutupi kekurangan biaya operasional, mereka membutuhkan mitra kesepuluh. Namun, setelah mencari ke sana kemari, tidak ada satu pun orang yang punya modal atau berani mengambil risiko bersama mereka.

Di tengah kebuntuan itu, Sholah Athiyyah melontarkan sebuah ide yang tak lazim:

Bagaimana jika kita menjadikan Allah sebagai mitra kesepuluh kita? Kita berikan Dia saham, dan sebagai imbalannya, Dia yang akan menjaga, melindungi, dan memberkati bisnis ini.

Perjanjian tertulis pun dibuat secara resmi. Kontrak kemitraan dengan Allah dimulai dengan porsi saham 10% dari keuntungan, yang dialokasikan khusus untuk sedekah dan membantu warga miskin.

Baca Juga: CEO Alphabet, Sundar Pichai: Putra India Kuasai Raksasa Teknologi Dunia

Ketika Matematika Manusia Kalah oleh Keajaiban

Apa yang terjadi kemudian di luar akal sehat. Pada musim panen pertama, bisnis peternakan mereka meledak. Keuntungan yang didapat berkali-kali lipat dari rata-rata bisnis sejenis. Merasa takjub dengan “bantuan” dari Mitra Kesepuluh, pada tahun kedua mereka menaikkan saham Allah menjadi 20%. Bisnis mereka justru makin menggila dan meluas.

Begitu seterusnya. Persentase saham untuk Allah terus dinaikkan secara bertahap: 30%, 50%, hingga akhirnya menyentuh angka 100%.

Pada titik inilah, Sholah Athiyyah dan delapan rekannya resmi melepas status kepemilikan perusahaan. Mereka menyerahkan seluruh aset dan keuntungan bisnis kepada Allah.

Sejak hari itu, Sholah Athiyyah mengubah posisinya: dari seorang pemilik modal, menjadi sekadar Karyawan Tuhan. Beliau hanya mengambil gaji bulanan sebagai pengelola, sementara seluruh profit perusahaan dikembalikan untuk kemaslahatan umat.

Baca Juga: Jack Ma: Kerap Ditolak Lamar Kerja, Kini Jadi Miliarder Dunia Digital

Mengubah Desa Miskin Menjadi Kota Peradaban

Hasil dari “saham” Mitra Kesepuluh itu perlahan mengubah wajah Desa Tafahnah Al-Asyraf secara total. Sholah Athiyyah tidak menumpuk uangnya di bank, melainkan mengalirkannya langsung menjadi program sedekah produktif yang luar biasa:

* Pendidikan Gratis: Beliau membangun sekolah dasar, menengah, hingga puncaknya berhasil mendirikan cabang Universitas Al-Azhar di desa tersebut—lengkap dengan asrama untuk ribuan mahasiswa.

* Nol Pengangguran: Pabrik dan lini bisnis baru didirikan untuk menyerap tenaga kerja lokal, hingga desa tersebut mencatatkan angka pengangguran 0%.

* Infrastruktur Mandiri: Beliau bahkan membangun stasiun kereta api khusus di desa tersebut agar para mahasiswa dari luar daerah memiliki akses transportasi yang murah dan mudah.

Baca Juga: Perjalanan CEO Hyundai: Anak Petani yang Sukses Skala Global

Kepulangan Sang Karyawan Setia

Pada Januari 2016, “masa kontrak kerja” Sholah Athiyyah di dunia akhirnya selesai. Beliau mengembuskan napas terakhirnya.
Hari kematiannya menjadi saksi bisu bagaimana dunia melepas seorang kekasih Tuhan.

Desa kecil Tafahnah Al-Asyraf mendadak banjir oleh lautan manusia. Lebih dari ratusan ribu orang—mulai dari warga desa, pejabat negara, hingga ribuan mahasiswa asing dari berbagai belahan dunia yang menikmati fasilitas universitasnya—datang menyalatkan dan mengantar jenazahnya. Tangis haru pecah di mana-mana.

Sholah Athiyyah telah berpulang, namun sistem “Bisnis dengan Tuhan” yang ia wariskan tetap hidup dan terus memberi manfaat hingga hari ini. Beliau meninggalkan sebuah pesan kuat bagi dunia: bahwa di hadapan Allah, sedekah tidak pernah mengurangi harta, melainkan melipatgandakannya hingga melampaui angka-angka yang bisa dihitung oleh kalkulator manusia.(Ren)