Tiongkok – Pada awal tahun 2019, sebuah keluarga di Provinsi Henan, Tiongkok, diguncang kabar duka. Sang kepala keluarga, Lu Yanheng, didiagnosis menderita leukemia (kanker darah) akut.
Satu-satunya jalan untuk bertahan hidup adalah melalui transplantasi sumsum tulang belakang secepat mungkin.
Syarat Berat yang Tak Masuk Akal bagi Anak Kecil
Setelah melalui serangkaian tes medis, hasil mengejutkan muncul: hanya anak sulungnya, Lu Zikuan, yang memiliki kecocokan sel punca untuk menjadi donor.
Masalahnya, saat itu Zikuan baru berusia 11 tahun dengan berat badan hanya 30 kilogram.
Dokter memberikan syarat mutlak: Zikuan harus memiliki berat badan minimal 45 kilogram agar prosedur pengambilan sumsum tulang aman bagi tubuhnya yang masih kecil. Jika tidak, operasi tidak bisa dilaksanakan, dan nyawa ayahnya terancam.
Baca Juga: Kesederhanaan Sultan Brunei Saat Hadiri Wisuda Sang Putri
Makan sebagai “Siksaan” yang Disengaja
Tanpa ragu, Zikuan memutuskan untuk menaikkan berat badannya secepat mungkin. Sejak Maret 2019, ia mulai “menyiksa” dirinya sendiri dengan pola makan yang tidak normal.
Ia memaksa dirinya makan 5 porsi besar setiap hari, yang terdiri dari nasi dan daging berlemak.
Seringkali ia merasa mual, sesak napas karena terlalu kenyang, hingga muntah. Namun, setiap kali rasa ingin menyerah muncul, ia teringat wajah ayahnya yang terbaring lemah. Ia akan kembali memegang sendok dan menghabiskan makanannya.
Baca Juga: Toleransi Adalah Sikap, Bukan Debat
Dihina “Gendut dan Rakus” di Sekolah
Perubahan fisik yang drastis—dari bocah kurus menjadi sangat gemuk dalam hitungan bulan—membuat Zikuan menjadi sasaran ejekan di sekolahnya.
Teman-temannya memanggilnya dengan sebutan kasar seperti “anak gendut yang rakus.”
Hebatnya, Zikuan tidak pernah membalas. Ia tidak pernah menceritakan kondisi ayahnya kepada teman-teman atau gurunya karena ia tidak ingin dikasihani. Ia menelan semua hinaan itu bulat-bulat, fokus pada satu tujuan: mencapai 45 kilogram.
Kemenangan Kasih Sayang
Kegigihannya membuahkan hasil. Dalam waktu sekitar 3-4 bulan, berat badannya melonjak hingga mencapai 48 kilogram. Pada September 2019, operasi transplantasi akhirnya dilakukan di Rumah Sakit Universitas Peking.
Operasi tersebut berjalan sukses. Lu Zikuan berhasil memberikan “kesempatan hidup kedua” bagi ayahnya. Saat kisah ini akhirnya terungkap ke publik, teman-teman sekolah dan masyarakat dunia tercengang.
Bocah yang mereka ejek “rakus” itu ternyata sedang berjuang sendirian di medan perang demi menyelamatkan nyawa orang yang paling ia cintai.
“Saya tidak peduli jika mereka mengejek saya gendut. Selama ayah saya bisa sembuh, saya akan makan sebanyak apa pun yang dibutuhkan.” — Lu Zikuan
