Euisun Chung: Sang Cucu Bawa Hyundai Keluar dari Hinaan Mobil Sekali Pakai

Euisun Chung: Sang Cucu Bawa Hyundai Keluar dari Hinaan Mobil Sekali Pakai

TanamPanen.com – Pada era 1980 hingga 1990-an, pasar otomotif Amerika Serikat sempat mempopulerkan sebuah lelucon kejam: “Jika tangki bensin mobil Hyundai-mu habis, tidak usah diisi ulang. Buang saja, lalu beli yang baru.”

Saat itu, Hyundai dipandang sebelah mata sebagai produsen mobil murah, ringkih, dan dicap negatif sebagai disposable cars—mobil sekali pakai. Di panggung global, raksasa Jerman dan Jepang melihat pabrikan Korea Selatan ini tak lebih dari sekadar pengganggu kelas teri di segmen bawah.

Namun, roda berputar. Di bawah kendali Euisun Chung, cucu dari sang pendiri legendaris Chung Ju-yung, hinaan itu dibakar menjadi bahan bakar inovasi radikal. Euisun membuktikan mentalitasnya sebagai pebisnis sejati: ia tidak mencari perlindungan politik, melainkan menantang balik pasar global dengan kualitas murni.

Baca Juga: Perjalanan CEO Hyundai: Anak Petani yang Sukses Skala Global

“Pemberontakan” Desain dan Pembajakan Otak Eropa

Langkah awal Euisun dimulai dengan mendobrak dinding konservatif internal Hyundai. Ia sadar, untuk keluar dari jebakan citra “mobil murah“, Hyundai harus memiliki karakter visual yang disegani.

Secara mengejutkan, Euisun nekat melompati batas negara dan membajak Peter Schreyer, otak di balik desain ikonik Audi TT. Keputusan merekrut talenta asing ini sempat ditentang keras oleh para petinggi tua di Seoul. Namun, Euisun bergeming.

Hasilnya instan. Di bawah arahannya, Hyundai dan Kia menjelma menjadi mobil dengan estetika progresif, berkarakter, dan mulai sejajar dengan kemewahan desain Eropa. Lahirnya identitas baru ini perlahan menghapus memori publik tentang Hyundai yang membosankan dan ringkih.

Meluncurkan Genesis: Menampar Dominasi Jerman

Tidak puas hanya merombak desain, Euisun mengambil risiko yang dinilai banyak pengamat sebagai langkah “bunuh diri” bisnis: meluncurkan Genesis pada tahun 2015 sebagai merek mewah berdiri sendiri (luxury stand-alone brand).

Baca Juga: Perjalanan CEO Hyundai: Anak Petani yang Sukses Skala Global

Banyak yang tertawa saat Hyundai mencoba menantang Mercedes-Benz, BMW, atau Lexus di kelas premium. Namun, fokus Euisun sangat presisi. Ia tidak setengah-setengah dalam mendanai riset dan menjaga kontrol kualitas. Dalam waktu singkat, Genesis meroket dan berulang kali menyabet penghargaan tertinggi dalam survei keandalan dan kualitas global (seperti J.D. Power), meruntuhkan dominasi merek-merek mapan dunia.

Baca Juga: Duel SUV Listrik Tiongkok: Deepal S07 vs BYD Atto 3

Taruhan Total pada EV dan Robotika Masa Depan

Ketika pabrikan otomotif raksasa lain masih ragu-ragu dan bermain aman di zona nyaman mesin bensin, Euisun Chung justru mengambil keputusan visioner yang agresif. Ia menaruh semua modal dan fokus Hyundai pada pengembangan platform khusus kendaraan listrik (EV) bernama E-GMP.

Taruhan besar itu berbuah manis. Seri Ioniq (Ioniq 5 dan Ioniq 6) tidak hanya laku keras, tetapi juga menyapu bersih gelar World Car of the Year berturut-turut. Tidak berhenti di sana, ia memperluas batas bisnis dengan mengakuisisi Boston Dynamics, menegaskan bahwa di bawah kepemimpinannya, Hyundai bukan lagi sekadar pabrik mobil, melainkan raksasa teknologi mobilitas masa depan yang mencakup robotika hingga taksi terbang.

Warisan Sang Petarung Sejati

Di saat banyak pemimpin bisnis menyerah pada kenyamanan atau terdistraksi oleh iming-iming kekuasaan di luar industri, Euisun Chung menunjukkan watak asli seorang pengusaha murni. Baginya, panggung tertinggi adalah pasar global, dan validasi terbaik adalah kualitas produk yang diakui dunia.

Melalui determinasi baja dan keberanian mengambil risiko, sang cucu berhasil menuntaskan misi terbesar dalam sejarah keluarga Chung: mengangkat martabat Hyundai dari sekadar bahan lelucon “mobil sekali pakai” menjadi raksasa teknologi global yang kini membuat kompetitor terkuatnya gemetar.