TanamPanen.com – Ruang publik digital hari ini telah berubah menjadi rimba belantara tanpa batas, dan di tengahnya berdiri YouTube—alun-alun digital terbesar di dunia. Namun, sebuah ironi besar sedang terjadi di sana. Di satu sisi, kita melihat anak-anak di bawah umur dengan begitu mudahnya mengakses platform ini.
Di sisi lain, lagu-lagu dengan lirik jorok, vulgar, hingga penyebutan alat vital dan konten berbau pornografi secara gamblang, bebas berseliweran tanpa sensor.
Mengapa platform sebesar YouTube meloloskannya? Mengapa dalih “kebebasan berekspresi” dan “konteks seni” seolah menjadi tameng sakti yang tak tersentuh?
Baca Juga: Raksasa Teknologi Dunia: Sejarah Berdirinya Google Sang Pionir Android
Kamuflase di Balik “Bahasa Subjektif”
Selama ini, industri teknologi dunia selalu berlindung di balik alasan klasik: bahwa batasan kasar dan jorok itu bersifat subjektif dan tergantung budaya. Namun, argumen tersebut sebenarnya tak lebih dari sekadar kamuflase.
*Al-haq bayyin wal bathil bayyin*—yang benar itu jelas, dan yang batil itu pun jelas. Batasan moralitas untuk hal-hal yang merusak pola pikir manusia tidak pernah abu-abu. Penyebutan hal-hal porno dan kata-kata kotor adalah hal negatif yang nyata dampaknya. Ketika batasan yang sudah sejelas hitam di atas putih ini tetap dilewati, maka alasan “seni” berubah menjadi pembenaran atas pembiaran.
Silakan saja berekspresi bebas, tetapi bukankah kebebasan itu seharusnya tahu tempat? Di dunia nyata, siapa pun yang berteriak menggunakan kata-kata porno di tengah alun-alun kota pasti akan ditindak karena merusak ketertiban umum. Namun anehnya, di ruang publik digital seperti YouTube, tindakan serupa justru dibiarkan melenggang bebas.
Baca Juga: Induk Perusahaan Google: Alphabet Inc Ibarat Ayah Baru Lahir Setelah Anak Besar
Ketika Angka Mengalahkan Pola Pikir
Upaya YouTube yang hanya mengandalkan pembatasan usia (age restriction) atau menyerahkan kontrol sepenuhnya kepada orang tua terbukti menjadi jalan pintas yang lepas tangan. Faktanya, memanipulasi umur di internet semudah membalikkan telapak tangan.
Terlebih lagi, kedewasaan seseorang tidak pernah bisa diukur hanya dari angka di atas kertas, melainkan dari cara mereka berpikir. Banyak orang dewasa yang secara psikologis belum matang, dan jutaan anak-anak setiap hari bertaruh masa depan moral mereka di depan layar algoritma.
Sayangnya, algoritma komputer hanya bisa membaca data angka, bukan kedewasaan mental. Dan di sinilah benturan fundamental itu terjadi.
Baca Juga: Mada’in Saleh: Meluruskan Kekeliruan Narasi Kaum ‘Ad dan Manusia Raksasa
Benturan Moral versus Syahwat Korporasi
Pada akhirnya, ini adalah perang terbuka antara Standar Moral Mutlak melawan Syahwat Kapitalis Global.
Bagi masyarakat yang peduli pada masa depan generasi penerus, ruang publik harus dibersihkan dari segala hal yang merusak karakter manusia. Namun bagi korporasi kapitalis, ruang publik digital adalah mesin pencari uang.
Selama lirik-lirik kontroversial tersebut menghasilkan jutaan views, mendatangkan interaksi, dan mengalirkan dolar dari iklan, mereka akan selalu mencari celah aturan agar konten tersebut tetap tayang.
YouTube telah memilih posisinya: menaruh trafik bisnis dan kebebasan korporasi di atas tanggung jawab pembentukan moral bangsa. Selama raksasa teknologi ini menolak menyelaraskan kompas moral mereka dengan nilai-nilai kemanusiaan yang hakiki, ruang publik digital akan tetap menjadi tempat yang berbahaya bagi akal sehat dan moralitas generasi masa depan.
Satu hal yang pasti: menyerahkan sensor moral kepada sistem kapitalis adalah sebuah kesia-siaan.
Penulis: Biren Muhammad
