TanamPanen.com – Dalam kalender Jawa, bulan Dzulqa’dah dikenal dengan sebutan Bulan Apit atau Bulan Selo. Secara etimologi, “Apit” berarti terjepit, karena posisi bulan ini berada di antara dua hari besar Islam yang sangat meriah: Hari Raya Idulfitri (Syawal) dan Hari Raya Iduladha (Dzulhijjah).
Mitos yang berkembang di sebagian masyarakat Jawa menyebutkan bahwa Bulan Apit adalah masa yang “wingit” atau kurang menguntungkan untuk memulai hajat besar, termasuk urusan bisnis. Ada kepercayaan bahwa melakukan ekspansi usaha atau menggelar perayaan besar di bulan ini dapat mendatangkan kesialan atau membuat rezeki “terjepit”.
Akibatnya, banyak orang cenderung menahan diri, membatasi konsumsi, dan menunda transaksi besar, yang secara psikologis menciptakan suasana pasar yang lesu dan sepi pembeli.
Baca Juga: Bulan Perlahan Menjauhi Bumi: Apa Dampaknya bagi Kehidupan Kita?
Analisis Ekonomi: Mengapa Pasar Sepi di Bulan Apit?
Meskipun mitos memberikan warna budaya, para pakar ekonomi memiliki penjelasan yang lebih terukur mengenai fenomena melemahnya daya beli di periode ini. Berikut adalah tinjauan dari perspektif ekonomi:
1. Efek “Post-Lebaran Fatigue” (Kelelahan Finansial)
Setelah merayakan Idulfitri, mayoritas rumah tangga mengalami lonjakan pengeluaran yang signifikan untuk mudik, bingkisan, dan konsumsi harian yang tinggi.
Kondisi Tabungan: Di Bulan Apit, cadangan finansial masyarakat biasanya sedang berada di titik terendah karena baru saja terkuras di bulan Syawal.
Prioritas Ulang: Konsumen beralih ke mode hemat untuk memulihkan stabilitas arus kas keluarga.
2. Persiapan “Budgeting” Iduladha
Bulan Dzulqa’dah adalah masa persiapan menuju hari raya kurban. Alokasi Dana: Masyarakat kelas menengah ke atas mulai mengalihkan anggaran mereka untuk pembelian hewan kurban yang harganya cukup tinggi.
Penurunan Retail: Dana yang seharusnya mengalir ke pasar retail atau barang konsumtif tersedot ke sektor peternakan, sehingga pasar umum terasa lebih sepi.
Baca Juga: Idul Adha Kompak, Idul Fitri Berbeda, Begini Penjelasannya!
3. Faktor Siklus Tahunan: Tahun Ajaran Baru
Secara kebetulan, Bulan Apit sering kali bertepatan atau berdekatan dengan masa Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB).
Biaya Pendidikan: Orang tua dihadapkan pada biaya seragam, buku, dan uang pangkal sekolah. Dalam hierarki kebutuhan, pendidikan adalah prioritas utama yang memaksa masyarakat menekan pengeluaran belanja di pasar.
4. Teori Ekspektasi Rasional
Pakar ekonomi sering menyoroti bahwa jika sebagian besar masyarakat percaya bahwa ekonomi akan sulit di bulan tertentu (karena mitos), mereka akan bertindak secara kolektif untuk berhemat. Tindakan kolektif ini menciptakan fenomena self-fulfilling prophecy, di mana ketakutan akan pasar sepi justru benar-benar membuat pasar menjadi sepi karena tidak ada yang berbelanja.
Kesimpulan.
Sepinya pasar di Bulan Apit bukanlah akibat dari “kutukan” atau kesialan mistis, melainkan hasil dari tekanan finansial siklus tahunan. Kombinasi antara pemulihan pasca-Lebaran, persiapan kurban, dan biaya sekolah menciptakan kondisi di mana daya beli masyarakat memang sedang dalam titik jenuh.
“Pasar yang sepi di bulan ini adalah bentuk rasionalitas konsumen dalam mengelola prioritas keuangan, di mana kebutuhan mendesak dan ibadah mengalahkan keinginan konsumtif jangka pendek.(Ren)
